Taufiq, SH, mantan Sesditjen Bimas Islam Tutup Usia

  • Monday, 02 November 2015 | 12:34
  • Administrator
Jakarta, bimasislam- Keluarga Besar Kementerian Agama dan Mahkamah Agung kehilangan seorang putra terbaiknya. Drs. H. Taufiq SH, MH, berpulang ke rahmatullah, Jumat 30 Oktober 2015 pukul 05.30 WIB di Jakarta dalam usia 77 tahun. Jenazah mantan Wakil Ketua Mahkamah Agung RI itu dimakamkan di TPU Pondok Kelapa Jakarta Timur, usai dishalatkan setelah shalat jumat di Masjid Al-Muqorrabin Kompleks Kodam Jatiwaringin Jakarta Timur, di lingkungan kediamannya. Istri beliau Hj. Muflikhah yang dinikahinya tahun 1961 telah lebih dulu wafat beberapa tahun yang lalu.
 
Taufiq adalah mantan Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama dan merangkap Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji tahun 1990 – 1992. Beliau menjabat Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama menggantikan H. Muchtar Zarkasyi, SH.
 
Lahir di Babat Lamongan Jawa Timur pada 7 Januari 1938. Beliau berdarah campuran Jawa dan Madura. Ibunya bernama Istirahah (Jawa) dan ayahnya Basyuni (Madura). Ayahnya seorang hafidz (penghafal Al Quran).
 
Meniti karier di lingkungan peradilan agama, Taufiq yang juga kader HMI pertama kali bertugas di Pengadilan Agama Tuban tahun 1960, Ketua Mahkamah Islam Tinggi Cabang Surabaya, Ketua Pangadilan Agama Bojonegoro, Kepala Jawatan Peradilan Agama Surabaya, dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta. Di masa mudanya ia juga aktif di dunia pendidikan, yaitu mengajar di PGA-P Muhammadiyah dan bahkan juga sempat menjadi Kepala Sekolah Muallimin NU. Semasa kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Taufiq mengambil jurusan Hadits dan dibimbing langsung oleh Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, sementara itu dalam mempelajari Ilmu Falak, ia dibimbing oleh Sa’aduddin Djambek
 
Taufiq yang Iatar belakang politiknya Masyumi itu, diangkat oleh GOLKAR sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong-Royong (DPR-GR) Kabupaten Tuban selama kurang lebih dua tahun. Tahun 1970, Taufiq diajak menjadi pengurus GUPPI (Gabungan Usaha-Usaha Peningkatan Pendidikan Islam).   
 
Sebagaimana terekam dalam buku Mutiara Yang Tak Terlupakan: Profil dan Pemikiran Tokoh-Tokoh Peradilan Agama di Indonesia, Pengantar Drs. H. Wahyu Widiana, MA(2012), meski ketika itu Taufiq sudah hendak meninggalkan dunia peradilan dan ingin mengurusi dakwah dalam tugasnya sebagai Sesditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, namun ia dipromosikan sebagai Hakim Agung pada Mahkamah Agung tahun 1992. Puncak karier dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara adalah sebagai Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama dan Wakil Ketua Mahkamah Agung RI.
 
Tahun 2004 Taufiq purnabakti sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung RI. Selanjutnya ia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Pusat masa bakti 2009 – 2014. BP4 merupakan terminal akhir pengabdiannya di tengah masyarakat.
 
Pemerhati sejarah Kementerian Agama M. Fuad Nasar kepada bimas-islam menuturkan, “Beliau (Pak Taufiq) alumni PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta tahun 1959 bersama Pak Ahmad Gozali, Pak Amidhan, Pak Basyah Abdullah dan lain-lain. PHIN adalah perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Kementerian Agama yang di masa lalu banyak mencetak kader-kader potensial Kementerian Agama. Pak Taufiq adalah orang pertama dan pembuka jalan sebagai Hakim Agung dari Peradilan Agama. Peran dan jasa almarhum dalam menjaga  ruh Peradilan Agama setelah lepas dari Kementerian Agama tidak bisa dilupakan.”        
 
Taufiq salah satu pelaku sejarah yang mengalami prolog pengalihan organisasi Peradilan Agama dari Kementerian Agama ke Mahkamah Agung, yang secara resmi berlaku tahun 2004. Pro-kontra sempat mewarnai proses tersebut hingga akhirnya menjadi sebuah keputusan politik. Realitasnya pada waktu itu adalah keinginan warga Peradilan Agama sendiri untuk bergabung dengan Mahkamah Agung, meski Kementerian Agama di masa Menteri Agama H.A. Malik Fadjar tahun 1999 ingin tetap mempertahankan Peradilan Agama di bawah Kementerian Agama.
 
Dalam suatu acara Taufiq berpesan kepada jajaran Ditjen Badan Peradilan Agama: “Suatu ketika kita di MA, memang ada tantangannya. Kita tidak boleh lengah. Perlu dijaga mental agar tidak goyah oleh fasilitas dan anggaran yang besar. Jangan sampai terjadi waktu gaji sedikit, fasilitas terbatas bisa menjaga integritas. Tetapi setelah berubah, fasilitas wah, gajinya lumayan, lalu mental ikut berubah.” pesan beliau.
 
Semoga amal pengabdian almarhum diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosanya. (mfns/bimasislam)