Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
TOKOH
H. Udin Saepudin Muhidin, Lc, MA
  • Monday, 18 April 2016 | 09:11
  • tokoh
"Experience is the best teacher, idiom ini nampaknya cocok disematkan kepada seseorang yang memang hidupnya selalu belajar dari pengalaman. Orang seperti ini juga akrab dengan ungkapan “untuk kebaikan, banyak jalan menuju roma”. Pekan lalu, reporter bimasislam mengunjungi ruang kerja Kasubdit Pengembangan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan al-Hadits. Dengan penuh kehangatan, dimulailah cerita singkat dari kisah menjadi lokal staf pada Kedutaan Besar RI di Amman, Yordania hingga MTQ Internasional."
 
 
Profil kita kali ini adalah orang yang sangat familiar di Ditjen Bimas Islam. Pernah jadi sekretaris pribadi Dirjen Bimas Islam era Prof. Dr. Narasuddin Umar, MA. Lama berkecimpung di Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Direktorat Pemberdayaan Wakaf. Saat ini menjadi salah satu Pejabat Eselon III di Direktorat Penerangan Agama Islam.  Adalah H. Udin Saepudin Muhidin, Lc, MA, akrab dengan sapaan Pak Udin, lahir di Bogor, 6 Mei 1965. Udin memiliki kelebihan yang langka, yaitu mahir dalam sejumlah bahasa Asing.
 
Sekilas cerita tentang Pak Udin.
 
Memang sedari muda, Udin sudah menampakkan kecintaannya terhadap bahasa. Sebelum masuk ke perguruan tinggi, Pak Udin menamatkan pendidikan Aliyah (setingkat SMA), dibawah asuhan Kyai Haji Abdullah bin Nuh, Ulama Besar Bogor yang ketokohannya setara dengan Buya Hamka, kala itu. Kecintaannya akan ilmu bahasa membawa Udin masuk ke Lembaga Pengajaran Bahasa Arab Saudi Arabia di Jakarta.
 
Merasa memiliki kemampuan bahasa, Udin lantas melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas di Yordania dengan mengambil jurusan Islamic Law dan Minor Satra Prancis. Pendidikan formal terakhirnya adalah sekolah pascasarjana di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Konsentrasi Pemikiran Islam.
 
Diluar pendidikan formal, Pak Udin menghabiskan waktu luangnya dengan mengambil kursus Bahasa Perancis, Inggris, Italia, Spanyol dan Jerman. Bahkan dirinya secara otodidak juga menguasai bahasa Tagalog (Filipina). Bahasa terakhir ini merupakan bahasa Ibu Istri Pak Udin yang memang asli orang Filipina. Saat ditanya apa rahasianya bisa menguasai banyak bahasa, Udin pun membagi rahasianya yaitu harus didasari rasa cinta, “suka dengan bahasa adalah kuncinya”, ungkapnya dengan singkat.
 
Ya, kita sedang membicarakan Pak Udin, pejabat Kementerian Agama dengan segudang pengalaman Internasional. “Saya dulu petugas musiman selama musim haji dari 1985-1990”, tutur Pak Udin mengawali cerita serunya. Pada tahun 1990-1991 dirinya menjadi lokal staf pada Kedutaan Besar Negara Palestina di Jakarta sebagai penerjemah dan lokal staf pada Kedutaan Besar Negara RI di Amman Yordania dari 1991 – 1998. Sejak saat itu, dirinya terus dipercaya untuk menangani periwisata dan kunjungan keagamaan ke beberapa Negara, seperti ke Yordania, Yerussalem, Palestina dan Tel Aviv, Israel. Udin muda juga sudah dipercaya untuk mendampingi Menteri Agama, Dr. tarmizi Thahir pada Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Anggota OKI tahun 1996 dan menjadi Anggota Delegasi RI utusan Kementerian Agama RI pada Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Anggota OKI di Qatar tahun 2004, sebagai Ketua Delegasi Indonesia kala itu Drs. H. Tulus, Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf, bahkan pernah mendampingi Tim negoisasi pertamina ke Bagdad Irak, tahun 1996. Dari beberapa pengalaman inilah dirinya juga terlibat menangani hubungan dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Agama hingga saat ini.
 
Saat ini Pak Udin dipercaya sebagai Kasubdit MTQ, tentu ini bukan pekerjaan mudah, karena ditangannyalah sukses tidaknya ajang tingkat nasional dan internasional dipertaruhkan.  Oleh karena itu, dirinya memiliki keyakinan bahwa dalam hidup selalu ada masalah dan tantangan untuk diselesaikan dan ”tidak ada seorangpun yang terlepas dari ujian dan rintangan dalam hidup, hadapi dengan sabar karena semuanya ada waktu menuai kebahagiaan”.
 
Ditanya soal suka duka sebagai pilot kegiatan bersekala Internasional, Pak Udin sejenak menghela nafas panjang lalu melanjutkan kisahnya. Baginya semua harus disyukuri, yang utama adalah profesionalitas. “Saya mensyukuri berada disini, mengerjakan urusan al-Qur’an dalam rangka syiar agama, kuncinya adalah harus kerja keras tanpa memikirkan masalah materi, harus profesional”, kata Udin.
 
Ada beberapa program prioritas pria yang juga menjadi staff pengajar pada Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini. Baginya sukses menyelenggarakan event MTQ Nasional dan Internasional harus dibarengi dengan perbaikan internal, salah satunya soal regenerasi “Kita perlu melakukan regenerasi dengan baik yaitu masalah rekruitmen dewan hakim”, ungkap Udin.
 
Selain itu, dirinya akan terus berupaya agar pendaftaran peserta MTQ harus sudah berbasis Informasi Teknologi (IT). “Saat ini pendaftaran masih manual, kedepan harus online dan terdata dengan baik agar tidak terjadi rekruitmen peserta dari provinsi lain”, tegasnya. 
 
Kualitas para Qari’/Qariah tanah air juga menjadi sorotan pria yang memiliki hobi mancing ini. Menurutnya kalau tidak ditingkatkan standarnya kafilah dari Indonesia akan kalah saing di masa mendatang. “Bidang Tilawah kita bisa bersaing, Iran dan Filipina merupakan saingan utama Indonesia di ajang MTQ Internaional pada Bidang Tilawah”. Tapi ada yang perlu ditingkatkan yaitu Qari’ harus sekaligus Tahfidz 30 Juz”, harapnya. 
 
Menjadi bagian dari sederet kegiatan bersekala nasional dan internasional  tidak lantas membuatnya jumawa, baginya spirit dari pelaksanaan kegiatan syiar agama adalah yang utama. “Semua pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an berkesan, baik tingkat nasional maupun internasional karena memiliki nilai silaturahim, di internasional memberi kesan lebih karena melalui event itu kita lebih dikenal dan dikenang. Selain itu juga event internasional sebagai media meningkatkan hubungan bilateral dengan negara negara sahabat dari yang sudah baik menjadi lebih baik”, ujar Pria yang mengidolakan Raja Husen (alm) Yordania.
 
Demikian profil singkat tentang Pak Udin, Kepala Subdit yang selalu berpesan pada stafnya agar dalam bekerja tidak pilih-pilih (tidak ego sektoral) dan selalu optimis. [syam]