Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
OPINI
Yang Dinanti Yang Dibenci
  • Friday, 15 November 2019 | 20:59
  • Noor Hidayat Kurniawan
  • opini

Oleh:
Nasuha Abu Bakar, MA*



Dalam kodratnya, manusia memiliki model dan sifat yang kurang terpuji, misalnya coba kita perhatikan makna surat ke 70 ayat 19-21: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh, Apabila dia (manusia) ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir.

Musim kemarau yang melanda tanah Nusantara, dan masa kemarau nya lumayan cukup lama, mengakibatkan sumur sumur masyarakat mengalami kekeringan. Akibatnya jangankan untuk mandi dan mencuci pakaian, untuk masak dan minum pun sudah mulai berkurang. Sebab waktu kemarau yang cukup lama dan panjang mencapai 6 bulan lamanya, di daerah daerah yang memang pada awalnya sudah langka dsn sedikit stok air nya seperti di wilayah gunung kidul, kekurangan air sudah lama mereka alami. Maka nilai air semakin sangat berharga.

Akibat kemarau panjang, rumput rumput yang membalut kokoh nya gunung, memberi warna hijau yang sangat mengagumkan bila ditatap dari kejauhan. Begitu kemarau panjang menikam mendadak rerumputan meregang kepanasan dan bukan sekedar rumput itu menguning akan tetapi seketika mengering. Tidak sekedar rumput rumput mengering, tetapi bukan saja ratusan bahkan ribuan hektar hutan Nusantara terbakar. Dan fatalnya, kesulitan, efek buruknya bukan saja dirasakan oleh masyarakat Nusantara, akan tetapi dirasakan juga oleh negara negara sekitar.

Bukankah Allah telah mengulang ulang ayat dalam surat ke 55 sampai 31 ayat itu diulang dan diulang. Ayat itu terdapat pada surat Arrahman yang maknanya "Nikmat Tuhan kalian yang manakah yang masih kalian dustakan"?

Bukankah kalau manusia tidak bersyukur Allah akan mengingatkan nya, menegurnya dan bisa saja kemudian Allah memperlihatkan kekuasaan dan kekuatan Nya. Peringatan dan lampu kuning dari Allah bisa kita renungkan surat ke 14 ayat 7.

Dalam sejarah umat Islam, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallama mengajarkan kepada sahabat sahabat tercintanya untuk meminta hujan.bukan dengan mengundang pawang hujan, akan tetapi beliau (Nabi) mencontohkan nya dengan melakukan shalat istisqa. Kaum sarungan menyebutnya dengan istilah shalat minta hujan. Cara yang dilakukan oleh nabi mengajak seluruh keluarga sanak saudara dan handai taulan, binatang binatang ternak juga dibawa ke lapangan, atau di area yang cukup memadai. Di tempat itu nabi dan para sahabat nya melakukan shalat istisqa dan bermunajat agar diturunkan hujan.

Yang merindukan hujan bukan saja kita umat manusia, akan tetapi lebih dari itu banyak makhluk Allah lainnya merindukan turunnya hujan, seperti kodok, ikan, binatang ternak seperti sapi, kerbau, unta dan lain lainnya. Juga tetumbuhan. Semuanya merindukan turunnya hujan. Dan seluruhnya baik binatang dan tumbuhan Allah ciptakan disediakan untuk dikelola dan digunakan sebaik baiknya oleh manusia (Al-Baqarah :22).

Akan tetapi manusia suka berlaku aneh, ketika musim kemarau, sumber sumber air sudah mulai mengering, sehingga danau yang letaknya dekat Banten lama benar benar kering hingga tanah dasar danau itu tampak jelas dan belah belah, disana sini masyarakat mulai mendatangi para kiyai, meminta kepada beliau beliau untuk diadakan shalat istisqa. Alasannya sangat klasik, sumur di rumahnya sudah kering, bahkan tidak sedikit yang memanggil jasa tukang bor untuk menambah pipa air lebih dalam. Subhanallah..... begitu lembut dsn halusnya keputusan Allah saat membagi rezeki hamba2Nya. Tetapi tetap saja sumur masih mengalami kekeringan. Subhanallah.... lagi lagi begitu indahnya Allah mendekatkan hamba2Nya agar tetap bermunajat agar diturunkan hujan. Tetap hujan dinanti.

Tanpa diminta pun Allah tetap menurunkan hujan, apalagi dengan diminta, karena air hujan bukan saja dibutuhkan oleh kita manusia, makhluk Allah yang lain pun merindukan dan membutuhkan nya. Sehingga tidak perlu terkejut apalagi sampai panik gara gara air hujan melimpah, tidak perlu membenci karena air hujan mengguyur dan menggenangi pelataran dan pekarangan rumah. Sejatinya hujan adalah rahmat, sumber rezeki dari Allah bagi semua ciptaan Nya.

Wallaahu 'alamu bish shawab.

*Penyuluh Agama Islam Kota Tangerang Selatan