Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
OPINI
Layanan Administrasi Pernikahan di Era Digital
  • Tuesday, 05 November 2019 | 15:47
  • Noor Hidayat Kurniawan
  • opini

Oleh:
Syafa’at, S.H, M.H.I*
 

Hidup di era digital, bagi yang mengikuti perkembangannya, sangat memudahkan dan terlihat keren, namun bagi mereka yang menganggap bahwa dunia digital tersebut seperti dunia lain, mereka juga “wajib” mengikuti, setidaknya dalam beberapa hal dimana mereka tidak dapat terlepas dari kewajiban menggunakan perangkat digital dimaksud. Terlebih untuk layanan publik dimana masyarakat lebih mudah mengakses informasi dari piranti pintar dalam genggaman tersebut, beberapa kebutuhan masyarakat juga sudah memanfaatkan teknologi digital tersebut, karenanya administrasi layanan publik saat ini termasuk didalamnya pernikahan, sudah menjadi keniscayaan jika dilakukan dengan cara digital, dimana sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan media dengan menggunakan kertas. Terlebih dengan hadirnya smartphone, dimana HP pintar tersebut “mengambil” beberapa fasilitas yang ada pada beberapa perangkat elektonik lain, baik fasilitas yang berkaitan dengan komunikasi, pengolahan visual hingga pengolahan data. Karenanya banyak yang memanfaatkan piranti canggih ini untuk beberapa keperluan, tidak terkecuali dalam administrasi layanan publik.
 
Tantangan penghulu diera millenial bukan hanya bagaimana seseorang tersebut dapat menggunakan sosial media untuk berkomunikasi, namun juga memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut untuk mempercepat layanan dan informasi kepada masyarakat. Masyarakat pencari informasi dapat berselanjar di dunia digital untuk memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Sebuah hal yang agak lucu saat ini ketika aparatur pemerintahan tidak mengikuti perkembangan informasi dan perkembangan teknologi yang seakan berkembang secara liar tersebut. Perkembangan zaman mengakibatkan cara pandang yang berbeda, perilaku yang berbeda,  dan berbeda pula cara pandang Aparatur Sipil Negara (ASN) terhadap layanan masyarakat.
 
Di tengah dunia yang kini menjadi begitu kompetitif dan terus berubah, dimana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa hanya individu yang mau kreatif, belajar memanfaatkan teknologi Informatika dan dan ikut dalam perubahanlah yang bisa survive. Ketika perubahan itu datang dari luar diri kita dan kemudian kita bersikap reaktif dengannya, melawannya, bahkan antipati dengan perubahan tersebut, maka kita menjadi bagian orang-orang yang kalah. Perubahan tetap dan akan terus terjadi, dengan atau tanpa adanya kita. Tidak ada yang tetap dari perubahan kecuali perubahan itu sendiri. Kesiapan untuk menghadapi perubahan dari akibat perkembangan Teknologi Informatika merupakan pekerjaan besar yang harus diikuti oleh Aparatur Sipil Negara. Perubahan itu terjadi di luar dari diri kita dan tidak akan berkompromi dengan diri kita, karya istimewa banyak yang dimulai dari ide sederhana.
 
Penggunaan aplikasi dalam administrasi yang telah disiapkan oleh negara merupakan sebuah keniscayaan. Sebuah Aplikasi diciptakan untuk memperludah sebuah pekerjaan, dan menciptakan arsip digital, meskipun dokumen cetak masih tetap diperlukan. Kreasi dalam memberikan layanan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi sangat diharapkan sebagai salah satu penerapan lima nilai budaya kerja dilingkungan Kementerian Agama, dimana kreasi tersebut terbuka lebar, baik melalui sosial media maupun aplikasi gratis yang disediakan perangkat lunak secara online. Dimana perangkat tersebut banyak digunakan untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan pendataan maupun quisioner.
 
Seperti hanya di Kabupaten Banyuwangi, dimana data digital yang dimiliki Dinas Kependudukan dan catatan sipil tersebut dimanfaatkan secara maksimal dalam layanan masyarakat, dimana dengan diberlakukannya tanda tangan digital dalam layanan kanrtu Keluarga, Kartu dalam bentuk lermbaran tersebut dapat dicetak di Kantor Desa/Kelurahan. Begitu juga dengan layanan surat pengantar pernikahan, dimana Pemerintah Kabupaten telah menyediakan data yang dapat dimanfaatkan untuk layanan digital dalam administrasi kependudukan dengan mengambil data digital dari Database Kependudukan, dimana data yang sama juga dijadikan rujukan bagi Kantor Urusan Agama dalam layanan pernikahan.
 
Penggunaan smart kampung tersebut sangat bermanfaat bagi layanan pernikahan, terlebih dengan kemudahan dalam mutasi data status perkawinan yang bersangkutan tanpa harus datang ke Dinas Kependudukan Kabupaten, dimana perubahan data yang berkaitan dengan status perkawinan tersebut cukup dilakukan pada Kantor Kecamatan, sehingga terjadinya ketidaksamaan data otentik dapat dihindari.
 
Meskipun dokumen dalam bentuk kertas masih tetap dibutuhkan, namun dengan adanya arsip digital, dokumen yang dibutuhkan semakin sedikit, pencarian file lebih mudah dan pada dokumen tertentu juga dapat diakses oleh masyarakat, meskipun demikian beberapa hal privat yang tidak diperbolehkan untuk dibuka secara umum sebagaimana diatur dalam perundang-undangan yang berlaku juga harus tetap dipatuhi.
 
*Alumni Diklat pembentukan Jabatan Calon Penghulu BDK Surabaya Tahun 2016