Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Toleransi Beragama di Bali Perlu Dicontoh Daerah Lain
  • Monday, 31 August 2015 | 15:43
  • berita
Denpasar, bimasislamBali seringkali disebut dengan Pulau Seribu Pura dengan penduduk mayoritas beragama Hindu. Islam adalah agama terbesar kedua yang dianut oleh 13,37 persen penduduk Pulau Dewata tersebut. Kehidupan umat beragama di provinsi beribukota Denpasar itu tergolong tinggi bahkan patut ditiru oleh provinsi lain di Indonesia.
 
Dalam satu provinsi di Bali, tak pernah terdengar bentrok antar pemeluk agama. Masyarakat Hindu menghormati umat Muslim yang sedang berpuasa, demikian sebaliknya Umat Islam menghormati pemeluk Hindu yang sedang merayakan Nyepi. Pun demikian dengan penganut agama-agama lain di Bali seperti Kristen dan Buddha.
 
Di Bali, tidak sedikit masjid yang berdiri berdampingan dengan pura, vihara, ataupun gereja. meski demikian, kerukunan antar umat berbeda agama tetap terjalin dengan harmonis. Jika perayaan Hari Raya Nyepi bertepatan dengan hari Jumat dimana umat Muslim wajib menunaikan ibadah sholat Jumat, maka Umat Islam tetap dapat menjalankan kewajibannya ke masjid, bahkan dikawal keamanannya oleh para pecalang adat, pun demikian umat Islam juga menghormati penganut agama Hindu yang sedang melakukan Catur Brata dengan tidak menggunakan pengeras suara.
 
Tradisi lain yang unik di Bali adalah tradisi Ngejot, yaitu tradisi memberikan makanan kepada tetangga. Ngejot ini dibagikan pada hari raya kepada umat berbeda agama sebagai tanda kehidupan yang rukun dalam bertetangga.  Bagi umat Hindu, tradisi ini digelar untuk Hari Raya Galungan, Nyepi,dan Hari Raya Kuningansedangkan bagi umat Islam, tradisi tersebut dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
 
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan tradisi unik ini ada. Namun tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan menunjukan keharmonian hubungan antar umat beragama. Umat Hindu mengirim kue dan buah-buahan, nasi, dan lauk dari daging ayam karena memahami bahwa umat Islam dilarang mengkonsumsi makanan yang diharamkan.
 
Sementara itu umat Islam melakukan tardisi ngejot saat menjelang Idul Fitri. Makanan yang diberikan beraneka ragam, misalnya opor ayam. Makanan yang dikirim ke tetangga dalam tradisi ngejot ini adalah makanan yang siap santap.
 
Tradisi unik ngejot di Bali merupakan simbol kerukunan di antara umat beragama, sehingga hubungan sosial tetap berjalan mesra dan harmonisHIngga kini, tradisi ngejot masih terpelihara baik di kalangan peganut Islam maupun Hindu, khususnya di daerah-daerah pedesaan. Masyarakat Muslim di Pegayaman, dan kampung-kampung Muslim lainnya di Bali, masih menjalankan tradisi tersebut. Desa Pagayaman merupakan salah satu kawasan di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Islam (yoesni/bimasislam)