Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Sumber Ekonomi Berbasis Agama Lebih Efektif Entaskan Kemiskinan
  • Wednesday, 18 November 2015 | 15:13
  • berita
Jakarta, bimasislamSumber ekonomi berbasis agama seperti zakat dan wakaf lebih efektif dalam mengentaskan kemiskinan jika diberdayakan secara produktif daripada bantuan uang negara. Demikian disampaikan Dirjen Bimas Islam, Machasin, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Perwakafan yang digelar oleh Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Senin (16/11).
 
“Penelitian Bappenas menyatakan, pengentasan kemiskinan masyarakat kita, lebih efektif jika dilakukan dengan menggunakan uang dari sumber ekonomi yang berbasis agama, seperti zakat, shadaqah, infaq dan wakaf,” terang pria yang juga merupakan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga tersebut.
 
Mantan Kepala Badan Litbang Kemenag itu mengutip hasil penelitian Bappenas yang menyatakan, bahwa, masyarakat Indonesia, butuh waktu sekitar tujuh tahun untuk dientaskan dari kemiskinan, jika menggunakan bantuan dari uang negara. Namun ‘hanya butuh waktu’ 5,2 tahun, jika uang yang dipakai tersebut berasal dari sumber-sumber ekonomi yang berasal dari basis keagamaan.
 
“Nah, hal begini ini, yang perlu kita kembangkan ke depan. Untuk itu, mari, kita rumuskan bersama, bagaimana dana dari sumber-sumber ekonomi yang berbasis agama tersebut bisa dipakai untuk mengentaskan kemiskinan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” harap Machasin.
 
Machasin berharap, rapat kerja ini mampu membahas hal-hal yang akan dikerjakan ke depan, sembari melihat hal-hal yang telah dilakukan. Menurutnya, apa yang akan dilakukan, bisa dinilai dan diukur dari pengalaman yang telah diusahakan sampai dengan saat ini. Machasin mengakui bahwa pengelolaan wakaf mempunyai tantangannya sendiri. Apalagi tanah wakaf yang ada itu bermacam-macam, mulai dari luasnya, letaknya, juga potensi untuk bisa diberdayakan bagi kesejahteraan masyarakat. 
 
“Bahkan tidak sedikit, tanah wakaf kita secara de facto dikuasai masyarakat tertentu. Mari kita pecahkan bersama masalah ini, demi ke depan yang lebih baik,” ajak Dirjen.
Ke depan, Machasin melihat, tanah wakaf juga bisa dipakai untuk membantu pengadaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Saya yakin itu bisa. Kita harus mencari bagaimana caranya. Buatlah sebuah keputasan yang mampu menjadi dasar akan hal ini,” tandas Machasin dalam Raker yang mengangkat tema: “Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Tuntas” tersebut.
 
Rakenas Perwakafan berlangsung yang berlangsung sejak tanggal 16 hingga 18 November 2015, di hotel Lumire, Jakarta Pusat, ini diikuti oleh 75 Peserta yang terdiri atas 33 Peserta dari Kanwil se-Indonesia, 9 Peserta dari LKS PWU, 13 peserta dari internal Direktorat Pemberdayaan Wakaf,  8 Peserta dari Ormas Islam (Perwakilan dari NU, Muhammadiyah, MUI, ICMI, HIPMI, KMPI dan DMI), 2 Peserta dari BPN, 2 peserta dari Bappenas, 2 Peserta dari BWI Pusat, 2 Peserta dari PUPR, dari Biro Hukum Kemenag 2 Peserta, dan 2 peserta lainnya dari Biro Umum Kemenag  (g-penk/mkd/sigit/kemenag/bimasislam)