Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Menikmati Eksotika Masjid Agung Kauman, Yogyakarta
  • Monday, 14 September 2015 | 16:07
  • berita
Yogyakarta, bimasislamSebagai kota wisata yang “tak cukup dikelilingi dalam waktu tujuh hari,” Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan banyak destinasi yang menarik dan sulit dilupakan oleh para pelancong. Salah satunya adalah destinasi wisata religi yang bersejarah, Masjid Gedhe Kauman. Jika Anda adalah penikmat wisata religi, mendirikan shalat di Masjid ini adalah hal yang tidak boleh dilewatkan.
 
Masjid yang juga disebut Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayokyakarta Hadiningrat ini dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai pusat ibadah yang dibangun di pusat kekuasaan Kesultanan yang dipimpinnya. Masjid yang berlokasi di Jalan Alun-alun Utara, Gondomanan, Yogyakarta, ini sekaligus menjadi poros atau pusat dari lima masjid pathok negara Ngayogyakarta yang dibangun di empat penjuru mata angin sebagai penanda batas terluar wilayah kesultanan Yogyakarta.
 
Masjid Kauman merupakan salah satu bangunan cagar budaya Nasional yang dibangun pada Ahad 29 Mei 1773, hal ini sekaligus menjadikan menjadikan Masjid yang juga menjadi scene utama dalam film ‘Sang Pencerah’ itu sebagai salah satu masjid tertua di pulau Jawa. Masjid yang lekat dengan sejarah dan budaya kesultanan Jogja ini juga menjadi saksi tumbuh dan besarnya Gerakan Muhammadiyah yang merupakan salah satu organisasi Islam tertua dan terbesar di tanah air.
 
Sebagai bagian tak terpisahkan dari kesultanan Yogyakarta, arsitektural Masjid Kauman sarat dengan simbol dan filosofis Jawa. Bagian atap masjid ini menggunakan model atap bertumpang tiga dengan mustaka sebagai ilustrasi daun kluwih dan gadha. Model tajug bertumpang tiga ini mengandung makna filosofis dalam mencapai kesempurnaan melalui tiga fase sufistik kehidupan manusia yaitu, Syariat, Makrifat dan Hakekat. Bagian dalam Masjid juga sangat kental dengan nuansa etnik, menjadikan pengunjung merasa hidup di tengah zaman kerajaan dengan desainnya yang khas.
 
Sekalipun demikian, perkembangan jaman telah membuat bangunan masjid ini berkembang dan mengalami beberapa perubahan. Gempa besar yang terjadi pada 1867 telah meruntuhkan serambi Masjid Gedhe Kauman, bagian serambi ini kemudian diganti dengan bangunan baru yang menggunakan material yang khusus diperuntukkan bagi bangunan kraton. Demikian juga dengan lantai dasar Masjid yang mulanya terbuat dari batu kali, kini telah diganti dengan marmer yang didatangkan dari Italia.

Hal lain yang menarik dari pesona dari Masjid Gedhe Kauman salah satunya terletak pada pemasangan batu kali putih pada dinding masjid yang tidak menggunakan semen dan unsur perekat lain. Selain itu penggunaan kayu jati berusia lebih dari 200 tahun sebagai penopang bangunan masjid juga menjadi daya Tarik tersendiri bagi penyuka sejarah.

Ruangan bagian dalam Masjid Kauman tidak berbeda jauh dengan Masjid  lain secara umum. Masjid Gedhe Kauman memiliki gedung induk dengan satu ruang utama. Yang  menarik di bagian kiri belakang mihrab terdapat sebuah maksura yang dibuat dari ukiran kayu jati berbentuk buur sangkar. Konon fungsi bidang ini adalah untuk melindungi raja apabila Sri Sultan mendirikan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman. Sementara itu bagian mihrab dilengkapi dengan ukiran berornamen tumbuh-tumbuhan dan bunga khas ukiran Yogyakarta.
 
Jamaah putri memiliki ruang khusus yang disebut dengan pawestren, demikian juga peristirahatan para ulama dan khatib yang disebut yakihun. Saat ini, bagian-bagian lain dari kompleks Masjid terdiri dari Kantor Urusan Agama, kantor Takmir, Pagongan yang merupakan tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat prajurit kraton, serta regol atau gapura berbentuk Semar Tinandu sebagai gerbang utama kompleks masjid.
 
Dengan arsitektural yang demikian, Masjid ini merupakan contoh perpaduan antara agama dengan tradisi lokal Nusantara. Secara keseluruhan, bagi penikmat wisata, Masjid Gedhe Kauman merupakan destinasi yang tepat untuk menikmati sejarah, budaya, dan juga kedalaman agama sekaligus. (nakip-sigit/bimasislam)