Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Mengenal Lebih Dekat Moedji Raharto, Maestro Astronom Indonesia
  • Monday, 14 April 2014 | 12:01
  • Administrator
  • berita
Jakarta, bimasislam-- Kali ini bimasislam mengangkat sosok bernama Dr. H.Moedji Raharto. Ia merupakan salah satu astronom atau ahli falak Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap Kalender Islam. Ia lahir di desa Ponggok, Blitar, Jawa Timur pada hari Senin, 8 November 1954 M/13 Rabi’ul akhir 1374 Hdari pasangan Moekadji dan Moetingah. Pendidikanya dimulai dari SD GIKI Diponegoro Surabaya, tahun 1960-1966 M/1380-1386 H. Kemudian melanjutkan di SMPN X Surabaya (1966-1969 M/1386-1389 H), lalu SMAN 3 Surabaya (1969-1972 M/1389-1392 H). Adapun pendidikan tinggi diperolehnya di Departemen Astronomi FMIPA ITB, tahun 1974-1980 M/1394-1401 H.

Setelah lulus dari ITB, ia kemudian bekerja sebagai dosen di Departemen Astronomi FMIPA ITB sejak tahun 1981 M/1402 H sampai sekarang. Pada tahun 1981 M/1402 H menikah dengan Siti Yuhamah dan dikaruniai dua orang putra Maulida Riza dan Arman Hakim. Ia banyak terlibat dalam berbagai penelitian astronomi. Di antarnya pengalaman menjadi peneliti tamu di Observatorium Kiso-Universitas Tokyo, Jepang tahun 1982-1983 M/1403-1404 H, menjadi peneliti tamu di Sterenwacht-Leiden, Universitas Leiden-Belanda tahun 1984-1986 M/1405-1407 H. Gelar doktor diperolehnya melalui program S3 RONPAKU di Universitas Tokyo, Jepang 1994-1997 M/1415-1418 H, dengan judul Disertasi: Study of Galactic Structure Based on M-Type Stars.

Sampai saat ini, ia telah menjadi maestro astronomi atau ilmu falak di Indonesia dengan berbagai pengalamannya. Di antara pengalamannya terkait dengan kalender Islam atau penetapan awal bulan Qamariyah adalah menjadi anggota International Islamic Calendar Programme (IICP) di Penang Malaysia, anggota Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama RI (MUKER Kemenag RI) sejak tahun 1986 M/1407 H hingga sekarang.

Ia mulai berkecimpung dalam dunia ilmu falak sejak tahun 1981 ketika bekerja sebagai dosen di ITB. Ketika itu, ia bersama-sama dengan para praktisi dari Bosscha mengamati fenomena tentang banyaknya rukyat yang berhasil melihat hilal padahal secara astronomi hilal berada di bawah ufuk. Di samping itu, perbedaan dalam penetapan awal bulan Qamariyah terus saja terjadi. Dari fenomena tersebut, beliau memiliki rasa penasaran yang besar tentang apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Mengapa perbedaan awal bulan Qamariyah terus saja terjadi? Oleh karena itu, ia memiliki semangat, apabila perbedaan ini terselesaikan maka akan menjadi hal yang baik untuk persatuan Indonesia. Beliau kemudian menulis beberapa karya tentang penetapan awal bulan Qamariyah yang mempertanyakan tentang hasil rukyat. Dari hal tersebut, beliau mendapatkan pertanyaan “Mengapa tidak percaya dengan hasil rukyat para kyai?”.

Ia mempercayai bahwa setiap apapun yang dilakukan oleh manusia, pasti tidak luput dari kesalahan, termasuk juga rukyat yang dilakukan oleh para kyai ataupun perhitungan dalam astronomi. Beliau memiliki keinginan untuk merubah keberadaan fenomena tersebut dengan mencoba bergabung dengan Kementerian Agama RI. Beliau mendapatkan ejekan dari teman-teman praktisi di Bosscha bahwa ia tidak akan bisa merubah hal tersebut. Namun akhirnya pada tahun 1986 beliau bergabung di Kementerian Agama. Ketika di Kemenag itulah beliau baru mengetahui bahwa penetapan awal bulan Qamariyah di Indonesia ternyata menggunakan berbagai macam metode perhitungan/hisab yang banyak.

Metode-metode hisab yang digunakan oleh Kementerian Agama di antaranya adalah kitab-kitab falak klasik di mana hasil perhitungannya jauh berbeda dengan hasil hisab astronomi. Namun demikian, beberapa hasib sangat meyakini perhitungannya karena sudah melalui input data dan prosedur yang benar sesuai dengan instruksi dalam kitab tersebut. Walaupun prosedur yang dilakukan sudah benar, namun hasil perhitungan yang tidak sesuai dengan keadaan hilal yang sebenarnya ini menyebabkan hilal yang seharusnya masih di bawah ufuk, menurut perhitungan sudah berada di atas ufuk. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya rukyat yang berhasil walaupun di bawah ufuk.

Dari kenyataan ini, kemudian beliau mulai memberikan masukan untuk menverifikasi metode perhitungan dengan realita sebenarnya yakni mengkroscek hasil perhitungannya melalui gerhana yang terjadi pada tahun 1983 di Indonesia. Ketika itu gerhana matahari terjadi pada siang hari sekitar 7 menit, sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan verifikasi data dan metode perhitungan hisab-hisab tersebut. Dari sinilah kemudian mulai terlihat metode perhitungan yang mendekati keadaan yang sebenarnya.

Setelah melakukan kroscek tentang data hisab, beliau baru mulai memberikan masukan tentang perlu ditolaknya hasil rukyat ketika menurut hasil hisab, hilal berada di bawah ufuk. Sejak itulah, perjalanan hisab rukyat sudah mulai dikorelasikan dengan sain astronomi yang sebenarnya.

Ia mulai memperkenalkan teleskop sebagai alat yang dapat digunakan untuk melihat hilal. Sebelumnya para ahli rukyat di Indonesia hanya menggunakan gawang lokasi dan mata telanjang ketika melihat hilal. Padahal mata telanjang sangat sulit digunakan untuk melihat hilal karena cahaya hilal yang begitu tipis dan melah, serta kadangkala mendung ataupun posisi matahari yang dekat sehingga menyamarkan dan melemahkan cahaya hilal. Oleh karena itulah, banyak rukyat yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Awalnya perkenalan teleskop ini banyak ditentang pula oleh para ahli falak lain, namun lama kelamaan akhirnya teleskop dapat diterima di masyarakat sebagai sebuah alat canggih yang dapat membantu melihat hilal.

Di samping memperkenalkan peralatan, pengetahuan tentang definisi hilal perlu disampaikan kepada para perukyat karena selama ini yang didefinisikan sebagai hilal oleh para ahli rukyat adalah awan putih yang bersinar. Sejak itu mulailah diberikan pemahaman tentang definisi hilal dan beberapa benda langit menyerupai hilal yang dapat mengecok mata. Ketika itu mulai dilakukan definisi hilal sebagai bagian dari bulan, dengan penjelasan tentang berbagai posisinya di langit. Ke mana hilal menghadap ketika matahari berada di sebelah utara atau di sebelah selatan dari hilal atau tepat di bawah hilal serta korelasi tentang tinggi hilal, sudut elongasi, serta beda azimut matahari dan bulan.

Setelah hal tersebut dapat berjalan dan dapat dipahami, barulah kemudian diperkenalkan mengenai visibilitas hilal yang dapat digunakan sebagai standar penentuan awal bulan qamariyah. Visibilitas hilal merupakan kemungkinan hilal dapat dilihat, karena adakalanya dari hasil perhitungan hilal pasti dapat dilihat, dan adakalanya tidak dapat dilihat, sehingga diambil kriteria visibilitas hilal yang berada di tengah-tengah. Namun demikian, tetap saja hasil dari penetapan kriteria visibilitas hilal ini tidak dapat merangkul semua pihak yang mimiliki pendapat dan kepentingan yang berbeda-beda. Sehingga sampai saat ini perbedaan dalam awal bulan qamariyah dan kalender hijriyah berbeda.

Adapun metode perhitungan yang mulai digunakan sebagai pijakan dalam menetapkan awal bulan qamariyah adalah dari sistem hisab taqribi, tahkiki dan kemudian berkembang menjadi sistem hisab kontemporer yang sekarang ini ada. Lambat laun kemudian mulai digambarkan dan dibahas tentang posisi-posisi hilal ketika hilal berada di belahan bumi utara, atau ketika hilal berada di belahan bumi selatan sebesar 24,5 derajat dari katulistiwa. Bagaimana apabila ada belahan bumi yang tidak dapat melihat hilal ketika itu, apakah wajib berpuasa atau tidak.

Adapun kriteria MABIMS yang digunakan oleh Kementerian Agama RI saat ini yaitu ketinggian hilal 2 derajat, sudut elongasi hilal 3 derajat, dan umur hilal 8 jam sebagai suatu kriteria yang temporer sebelum ada kriteria yang meyakinkan melalui pengamatan yang kontinyu. Indonesia harus memiliki kriteria yang dijadikan acuan seada yang kita acuan supaya tidak kacau dan agar tidak menjadi masalah dan ketegangan-ketegangan yang mengganggu ketentraman umat. Namun, untuk sekarang dan selanjutnya perlu dilakukan pengamatan dan penelitian yang kontinyu untuk mendapatkan kriteria visibilitas hilal untuk seluruh umat Islam Indonesia, bahkan untuk seluruh umat Islam global.

Sebagai seorang ahli yang telah memiliki background keilmuwan dalam astronomi, ia tidak memiliki kesulitan untuk masuk dalam dunia ilmu falak. Keilmuwannya yang mempelajari tentang posisi bulan, bintang, matahari, mudah sekali untuk disinkronkan dengan ilmu falak karena pada dasarnya persoalannya sama, yakni posisi. Dalam dunia keilmuannya, ia belajar tentang Astronomi (posisi benda langit), Fotometri(kuat cahaya), spektroskopi, optik dan atmosfer di angkasa dan bumi, dsb. Dari materi-materi tersebut, kisi-kisinya sama yakni tentang astronomi bola, astronomi posisi, dan astronomi praktis. Tinggal bagaimana ilmu tersebut diaplikasikan untuk mengamati hilal atau bulan. Oleh karena itu, mudah sekali baginya untuk masuk dalam ilmu falak dan hisab rukyat.

Ia memiliki semangat untuk mengembangkan ilmu falak dan menyatukan awal bulan Qamariyah di Indonesia karena dunia Internasional banyak tertarik dengan masalah-masalah ini, seperti NASA di Amerika menggali masalah hisab rukyat. Mereka menguji tentang batas hilal bisa dilihat atau tidak. Banyak data yang digali oleh ilmuwan-ilmuwan non-muslim di luar negeri. Sedangkan umat Islam lebih banyak berdiam diri daripada melakukan penelitian-penelitian hisab rukyat. Karena itulah, banyak hal-hal dan data-data tentang hisab rukyat yang distimulai oleh orang-orang non-muslim salah satunya dalam melakukan pengamatan hilal.

Oleh karena itu, Moedji Raharto memiliki semangat untuk menggerakkan umat Islam. Umat Islam memiliki banyak tantangan. Umat Islam harus mulai bergerak. Bukan berangkat dari sesuatu yang baru, namun memulai dari sesuatu yang sudah ada, kemudian diangkat dan diupgrade pengetahuannya. Karena pada dasarnya masalah hisab rukyat bukan hanya masalah nasional umat Islam tapi juga Internasional.

Untuk mewujudukan hal tersebut, umat Islam Indonesia harus menyiapkan generasi atau SDM yang cukup handal dan berlanjut. Masalah hisab rukyat tidak bisa selesai hanya dalam satu atau dua generasi, sehingga harus dilakukan penelitian oleh SDM yang handal secara kontinyu dan sistemik. Umat Islam harus serius dengan apa yang dilakukan untuk mendapatkan satu sistem atau kriteria yang jelas, kemudian menjadikannya landasan membuat kalender Islam yang mantap sehingga akhirnya umat Islam dapat bersatu dalam mengawali puasa dan mengakhirinya. Dengan demikian, diharapkan kehidupan umat Islam akan lebih baik dan lebih mantap.

Telah banyak tulisan yang diterbitkan, di antaranya “Astronomi Islam dalam Perspektif Astronomi Modern”, Gerhana Kumpulan Tulisan Moedji Raharto,dan berbagai tulisan di jurnal dan media massa.