Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Tim Seleksi Umumkan 40 Calon Anggota BAZNAS yang Lulus Tahap Uji Kompetensi Daftar 40 Calon Anggota BAZNAS dapat dilihat di bimasislam.kemenag.go.id Calon Anggota BAZNAS yg Lulus Tahap Uji Kompetensi akan dilanjutkan dgn tahap masukan & saran masy. Seleksi Kesehatan Calon Anggota Baznas Periode 2020-2025 DITUNDA
BERITA
Masjid Sultan Suriansyah Tonggak Sejarah Perkembangan Islam di Banjarmasin
  • Monday, 09 November 2015 | 11:42
  • berita
Banjarmasin, bimasislamMasjid Sultan Suriansyah demikian nama masjid bersejarah yang menjadi tonggak perkembanganmasyarakat muslim di Banjarmasin. Tidak lengkap rasanya jika  ke Banjarmasin jika tidak berkunjung ke salah satu masjid tertua di Indonesia ini. Mata kita akan dimanjakan dengan ornamen unik berupa ukiran yang aneka warna menghiasi dinding-dinding bangunan.
 
Masjiddidirikan pada pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550 M), dimana beliau adalah raja pertama yang memelukagama Islam diwilayah Kalimantan Selatan. Berawal dari perjanjian  Sultan Suriansyah yang kala itu masih bernama Pangeran Samudera yang mengutus Patih Balit meminta bantuan kepada Kesultanan Demak di utara Pulau Jawa dalam perang melawan pamannya sendiri Pangeran Tumenggung memperebutkan kekuasaan di wilayah Banjar. Permintaan bantuan tersebut  ternyata diterima dan disambut baik dengan perjanjian nantinya Pangeran Samudera akan memeluk Islam jika menang dalam peperangan itu. Dari sinilah sejarah masjid berawal, dengan kemenangan Pangeran Samudera maka diperlukan sarana ibadah bagi komunitas masyarakat muslim yang baru terbentuk. Maka pada tahun 1526 didirikanlah masjid Sultan Suriansyah seiiring lahirnya kesultanan Banjar.
 
Masjid  yang usianya  sudah mencapai 450 tahun ini, dibangun dengan arsitektur tradisional khas Banjar yang juga dipadukan dengan gaya bangunan Demak. Konstruksinya dibangun dengan tipe  panggung dengan atap tumpang tiga (talu) yang berhiaskan sungkul dan jamang (ukiran). Bagian mimbar terbuat dari kayu ulin dengan pelengkung mimbar bertulis kaligrafi berbunyi Allah Muhammadarasulullah  tahun  1296 H bulan Rajab hari Selasa tanggal 17, sedang pada bagian kiri mimbar terdapat tulisan Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri Masjid.
 
Bentuk ruang pada Masjid Sultan Suriansyah memiliki gaya arsitektur Masjid Agung Demak,  yang dipengaruhi oleh arsitektur jawa kuno pada masa kerajaan Hindu. Warna hijau mendominasi nuansa masjid, berbagai ukiran tradisional menghiasi bangunan sehingga terlihat sangatartistik. Paduan hiasan tradisional khas Banjar dan Demak terintegrasidalam tampilan masjid bersejarah ini.
 
Pada tahun 1976, Kodan X Lambung Mangkurat melakukan perbaikan terhadap beberapa kerusakan masjid. Diikuti inisiator Gubernur Haji Gt Hasan Aman pada tahun 1999 melakukan perbaikan dan pemugaran besar-besaran, tetapi masih tetap mempertahankan beberapa bagian dengan bentuk asli, yaitu 4 tiang yang masih  kokoh sebagai penyangga masjid, pintu, beduk dam mimbar.
 
Masjid yang mempunyai misi menjadi masjid bersejarah yang dapat sebagai barometer bagi masjid-masjid lainnya disamping sebagai wahana dalam membentuk manusia berakhlakul karimah menuju kesejahteraan masyarakat, telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1 September 1978 dengan Surat keputusan (SK) Dirjen Sejarah Purbakala Departemen Pendidikan Nomor.047/L.3/DSP/78. Dalam hal ini Masjid Sultan Suriansyah telah menjadi bukti sejarah perkembangan agama Islam di Banjarmasin.  (lady/bimasislam)