Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Ketua BPP Masjid Istiqlal Berpulang
  • Friday, 06 April 2018 | 09:41
  • Noor Hidayat Kurniawan
  • berita

Jakarta, bimasislam --- Dr. D. B. M. Muzammil Basyuni, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal(BPPMI) berpulang ke rahmatullah Rabu 28 Maret 2018 pukul 09.35 WIB di Jakarta. Jenazah almarhum dishalatkan di Masjid Istiqlal. Ikut menshalatkan dan menyampaikan pidato belasungkawa Wakil Menteri Luar Negeri, A.M. Fachir. Esok harinya Kamis 29 Maret 2018 jenazah almarhum dimakamkan pada pukul 09.00 WIB di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan. Direktur Timur Tengah, Sunarko, mengucapkan pidato pelepasan jenazah atas nama keluarga besar Kementerian Luar Negeri usai jenazah almarhum dishalatkan di masjid komplek perumahannya di daerah bintaro.
 
Sejumlah tokoh dan mantan pejabat hadir di tempat pemakaman almarhum, antara lain: Salahuddin Wahid (Gus Sholah), M. Din Syamsuddin, Zainulbahar Noor, Nasaruddin Umar, Bahrul Hayat, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Senior Duta Besar Wirjono Sastrohandojo  menyampaikan sambutan perpisahan atas nama Forum Duta Besar. Dari Kementerian Agama, hadir Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf M. Fuad Nasar.
 
Muzammil Basyuni lahir di Rembang Jawa Tengah 7 Oktober 1947. Ia putra dari K.H. Basyuni Masykur dan adik dari Muhammad Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama.
 
Semasa muda ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri di University of Baghdad Irak.
 
Duta Besar M. Muzammil Basyuni meniti karier sebagai pegawai negeri di Departemen Luar Negeri sejak 1974. Penugasan perdana ke luar negeri sebagai Letda Tituler/Perwira Interpreter Arab dengan gelar diplomatik Atase Lokal UNEF (United Nations in the Service of Peace)di Sinai, Mesir tahun 1975 - 1976. Sekembali dari Sinai diangkat menjadi Pjs. Kasubag Penyusunan Rencana Pusdiklat Departemen Luar Negeri. Pada tahun 1977 ditugaskan sebagai interpreter bahasa Arab Presiden Soeharto pada kunjungan kenegaraan ke negara-negara Arab (Kuwait, Arab Saudi, Suriah, Mesir, dan Yordania).
 
Sekitar tahun 1984 mendapat penugasan sebagai Kasubid Penerangan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Tunis dengan gelar diplomatik Atase dan kemudian Sekretaris Tiga. Pada tahun 1988 menjabat Kasi KSE-OKI-Timur Tengah pada Direktorat Jenderal Ekonomi dan Luar Negeri. Pada tahun 1991 sebagai Kabid Ekonomi KBRI Brunei Darussalam dengan gelar diplomatik Sekretaris Dua dan selanjutnya dipromosi menjadi Sekretaris Satu. Pada tahun 1995 diamanahi jabatan Kepala Bagian Pertambangan dan Energi pada Biro Ekonomi Sekretariat Nasional ASEAN. Tahun 1999 ditempatkan sebagai Kabid Ekonomi KBRI Madrid dengan gelar diplomatik Counsellor dan Minister Counsellor. Puncak kariernya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia Untuk Republik Arab Suriah berkedudukan di Damaskus tahun 2006 – 2010.
 
Menurut M. Fuad Nasar yang mengenal almarhum, “Bapak Muzammil Basyuni adalah diplomat yang santri. Ia sosok diplomat yang matang karena pengalaman tugas di dalam dan luar negeri sebelum menjadi kepala perwakilan Republik Indonesia di negara lain. Salah satu keunggulannya sebagai Duta Besar Republik Indonesia adalah kefasihannya berbahasa Arab dan Inggris. Dalam pergaulan sehari-hari suami Hj. Diana Murni Muzammil itu dikenal sebagai pribadi yang hangat, simpatik, ramah, dan humoris. Semangat mengabdi yang dimiliki almarhum dan menjalin silaturahim dengan berbagai kalangan patut dicontoh.” ujarnya.
 
Tanda Penghargaan dari dalam dan luar negeri yang pernah diterima almarhum, antara lain dari Panglima United Nations in the Service of Peace  (UNEF) tahun 1975, Bintang Satya Lencana Santi Dharma dari Menhankam/Pangab RI tahun 1975, Bintang Order of Kuwait Fourth Class dari Emir Kuwait tahun 1977, Piagam Penghargaan dari Menteri Luat Negeri Adam Malik (1976), Bintang Fourth Class of the Order of Merit dari Presiden Mesir Anwar Sadat tahun 1977, Bintang Satyalancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI Soeharto tahun 1997, serta Bintang Syrian Order of Merit Medal of the Excellent Degree dari Presiden Basyar Al-Assad tahun 2010.
 
Perjalanan karier diplomatnya ke berbagai belahan dunia ditutup dengan pengabdian “mengurus masjid negara”, Masjid Istiqlal. Muzammil Basyuni dilantik oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) pada 22 Januari 2016.
 
Muzammil Basyuni seorang ulama yang terbentuk dengan tradisi santri, mencapai jenjang karier dan kepangkatan tertinggi diplomat yaitu Duta Besar, dan sekaligus cendekiawan. Setelah selesai memangku tugas kenegaraan, ia kembali ke habitat keilmuwan, yaitu mengambil program doktor (S3) di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Muzammil meraih gelar doktor dalam ujian sidang terbuka UGM tanggal 4 Juni 2016 dengan disertasi berjudul “Peran Indonesia Dalam Menyelesaikan Konflik Timur Tengah (Kasus Konflik Israel-Palestina)”. Disertasinya merupakan sumbangan pemikiran dan informasi berharga untuk mendukung pelaksanaan diplomasi dan politik luar negeri Indonesia.
 
Di masa Muzammil Basyuni menjadi Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal menggantikan Drs. H. Mubarok, M.Si., diselenggarakan perayaan hari jadi (milad) Masjid Istiqlal yang ketiga pada akhir Februari 2017. Perayaan Milad Masjid Istiqlal pernah diadakan tahun 1991 dan 1995.
 
Mengutip wawancara majalah Tazakka tahun 2012 seputar perjalanan kariernya dari santri hingga menjadi Duta Besar, Muzammil menuturkan, “Khairukum an fa 'ukum linnas, demikian yang saya kutip dan sering saya dengar dari salah seorang pendiri Pondok Modern Gontor, K.H. Imam Zarkasyi, sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia. Saya masih terngiang-ngiang seruan Kyai Gontor: bukan untuk tujuan tertentu belajar di Gontor, mau apa belajar di Gontor? Bukan untuk jadi presiden, miliarder, pejabat, pegawai, tetapi ‘jadi orang’. Ini jelas sebagai peran seorang santri dalam hidupnya. Apapun dan dimanapun seseorang santri pasti dibutuhkan, tidak mencari pekerjaan, tapi dicari pekerjaan.” ujarnya.Pengabdiannya  di lingkungan lembaga pendidikan Islam, antara lain pembina Pesantren Modern Tazakka Batang Jawa Tengah.
 
Selamat Jalan Duta Besar Muzammil Basyuni. Semoga almarhum memperoleh kemuliaan sebagai jiwa yang tenang dan damai dalam keridhaan Ilahi Rabbi (mfns).
 
Penulis : mnfs
Editor : mnfs
Foto : mnfs