Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Napak Tilas Bimas Islam Ke Masjid-masjid Bersejarah di Surabaya
  • Monday, 04 May 2015 | 11:18
  • Administrator
  • berita

Surabaya, bimasislamSebagai salah tugas dan fungsi Ditjen Bimas Islam Kemenag adalah mendata dan menginformasikan tentang rumah ibadah. Kali ini bimasislam menelusuri masjid-masjid bersejarah di sekitar Surabaya. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari bangunan masjid-masjid bersejarah, sehingga hasil liputan ini diharapkan memberi informasi kepada masyarakat. Berikut ini hasil liputannya yang telah dilakukan sepanjang tanggal 28-30 April 2015.

Masjid Ampel

Masjid Ampel merupakan tempat ibadah kedua yang dibangun oleh Sunan Ampel ketika melakukan ziarah penyebaran Islam di Surabaya. Sebelumnya, beliau lebih dulu membangun musholla kecil berukuran 12×12 di Kembang Kuning. Hingga kini, keberadaannya sebagai salah satu kawasan wisata religi sudah tak terbantahkan lagi di Surabaya. Pamor masjid yang dibangun pada tahun 1421 Masehi ini mampu mengundang ribuan pengunjung dari dalam dan luar kota sehingga tidak jarang pada momen-momen khusus, ada banyak pengunjung baik yang melakukan ibadah, berziarah ke makam Sunan Ampel atau hanya sekadar berjalan-jalan.
 
Dari kejauhan sudah akan terlihat menara setinggi 30 meter di dekat pintu masuk sisi selatan salah satu masjid bersejarah di Surabaya ini. Disekitarnya terdapat sumur dan bedug kecil peninggalan Sunan Ampel, serta 16 tiang setinggi 17 meter yang menyangga atap masjid seluas 800 meter persegi. Sejak kali pertama dibangun, Masjid Ampul belum pernah sekalipun direnovasi, dan hingga kini bangunannya masih kokoh.
 
Lokasinya berada di wilayah utara Surabaya, terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan pelabuhan utama di wilayah Indonesia Timur. Melalui armada rental mobil Surabaya Trinitar, pengunjung Masjid Ampel bisa menempuhnya kurang lebih 15 menit dari Pelabuhan dan sekitar 4 km dari pusat kota.

Masjid Agung Surabaya

Masjid Agung selalu menjadi destinasiwisatawan domestik yang ingin tahukemegahannya. Tidak jarang banyak armada bus, kendaraan pribadi atau bahkan rental mobil Surabaya yang diparkir di sekitar masjid tersebut karena memang Masjid Agung jarang sepi dari pengunjung yang ingin beribadah di sana. Konsep dasar arsitektur masjid ini sebenarnya sederhana, yakni membangun sebuah masjid yang nyaman dan tidak terikat dengan aliran tertentu. Masjid yang berdiri diatas tanah seluas 22.300 meter persegi ini salah satu keistimewaannya adalah penataan ruang yang menghadirkan bentuk bangunan besar dengan bobot kubah hampir 200 ton tanpa tiang tengah sebagai penyangga.
 
Ukiran dan kaligrafi nampak dominan di setiap sudut masjid bersejarah di Surabaya ini. Begitu masuk masjid, pengunjung akan disambut 45 pintu ukiran berbahan kayu jati. Pada serambi masjid terdapat bedug dengan ukiran khusus. Tak hanya itu, ukiran kaligrafi juga terpampang di dinding, mihrab, relung imam bahkan di ornamen atas yang penuh dengan kaligrafi Al-Quran sepanjang 180 meter dengan lebar 1 meter.
 
Di malam hari, keindahan masjid makin terpancar karena penerangan yang dayanya mencapai 240 ribu watt. Setiap menjelang petang, sekeliling Masjid Agung mulai dipadati dengan warung-warung makanan yang menawarkan wisata kuliner wajib bagi pengunjung seusai beribadah. Sambil memilah makanan yang akan dipilih, jasa antar jemput baik perorangan atau kelompok dari Trinitar rental mobil Surabaya bisa membawa berkeliling masjid.

Masjid Cheng Hoo

Sejak pertama kali diresmikan dan dijadikan tempat beribadah, Masjid Cheng Hoo Surabaya seperti menjadi lambang pemersatu Islam dan Cina; dua budaya yang masih sering dipandang berjauhan. Padahal, sejarah menunjukkan, Tionghoa dan Islam bukanlah dua kultur yang berjauhan. Masjid seluas 231 meter persegi ini merupakan bagian dari kompleks PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) di jalan Gading Surabaya. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 2002 yang secara keseluruhan hanya membutuhkan waktu enam bulan dalam pembangunannya.
 
Secara arsitektur, Masjid Cheng Hoo memiliki keunikan tersendiri. Layaknya bangunan khas Tionghoa, maka warna merah dan kuning emas sangat mendominasi bangunan masjid, diselingi sedikit warna hijau. Ada yang mengatakan, masjid ini sekilas mirip seperti klenteng. nama yang dipilih untuk masjid ini adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo. Cheng Hoo adalah salah seorang penyebar agama Islam yang dakwahnya sampai ke tanah air. Karena keunikan arsitekturnya dan merupakan masjid pertama dan masjid bersejarah di Surabaya yang berciri khas Tionghoa, MURI (Museum Rekor Indonesia) menganugerahkan penghargaan kepada Masjid Muhammad Cheng Hoo tersebut.
 
Masjid ini mampu menampung sekitar 200 jamaah dengan bangunan utamanya berukuran 99 meter persegi. Biasanya setiap minggunya masjid ini sering diadakan ceramah yang dihadiri oleh berbagai rombongan pengajian baik dari dalam atau luar kota. (whyu/foto:Bimasislam)