Fiqih (Munakahat)

Menikahi Wanita Dalam Keadaan Nifas

Assalamualaikum..
Apakah sah nikahnya seseorong apabila calon istrinya dalam keadaan nifas.
Wassalamualaikum..

H

TanyaHamba Allah (Jakarta)

Asalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Saudara yang dirahmati Allah...
Jawaban dari pertanyaan Saudara adalah sebagai berikut:
 
Dalam penyelenggaraan akad nikah/ijab qabul tidak ada syarat yang menuntut sucinya mempelai wanita dari hadats, baik itu hadats besar (haid dan nifas) maupun hadats kecil. Jika si mempelai wanita menikah dalam keadaan haid atau nifas, maka pernikahannya ialah pernikahan yang sah. Karena pada dasarnya wanita yang ditalak (diceraikan) atau yang ditinggal mati oleh suaminya dalam keadaan hamil, maka masa ‘iddahnya adalah sampai ia melahirkan anak yang dikandungnya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
 
 “Dan wanita-wanita yang hamil, (waktu ‘iddah mereka itu) adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.”  (QS. Ath-Thalaq: 4)
 
Jadi, wanita hamil yang berpisah dengan suaminya karena ditalak (diceraikan) atau ditinggal mati, diperbolehkan untuk menikah lagi, setelah ia melahirkan, meskipun masa nifasnya belum selesai. Namun suami yang barunya tidak boleh mencampurinya (menggaulinya) sampai wanita tersebut suci dari nifasnya. [lihat Umdatul Ahkaam, Kitab Ath-Thalaq, Bab ‘Iddah no. 325 dan Terj. Subuulus Salaam (III/108-109]
 
Demikian Jawaban dari kami. Wallahu a'lam bisshawwab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
TIm Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam.

B

JawabBimas Islam