Fiqih (Waris)

Mengenai Hukum Warisan

Asssalamualaikum

Saya memiliki pertanyaan yang membebani saya mengenai warisan. Begini bapak/ibu dirjen Bimbingan Masyarakat Islam. Saya anak laki-laki tunggal dari pernikahan ayah saya yang kedua. Sedangkan pada pernikahannya yang pertama mereka tidak dikaruniai anak hingga istri meninggal dunia. Harta yang ada adalah harta yang tidak lagi diketahui oleh saya pembagiannya karena kedua orang tua ini bekerja. Saya tidak mengetahui kejelasan mana harta istri pertama maupun harta ayah saya. Tetapi sejauh pengetahuan saya belum terjadi pembagian warisan hingga saat ini usia saya sudh 29 tahun.

Adapun pertanyaan saya:
1. Bagaimana pembagian waris untuk ayaj saya dan saudara kadnung dari istri pertamanya (orang tua dari keduanya telah wafat)?.
2. Adapun harta telah terpakai/terjual sebahagian karena kebutuhan ekonomi keluarga kami (saya dan istri kedua dari ayah saya), apakah ada cara pembagian untuk pihak keluarga (saudara) dari istri pertama beliau?.

Wassalamualikum.

F

TanyaFadli ()

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Saudara Fadli yang kami hormati. terimakasih telah berkonsultasi dengan kami. jawaban dari pertanyaan Saudara adalah sebagai berikut:

Pada prinsipnya bahwa pembagian harta warisan bersifat segera, artinya ketika pemilik harta wafat maka pembagian harta peninggalannya harus segera laksanakan. Memang tidak ada nash dalam Al Qur’an maupun hadits yang menjelaskan waktu pelaksanaan pembagian harta peninggalan karena semua itu dikembalikan menurut kemaslahatan masing-masing. Jika pembagian harta warisan dipandang lebih maslahat jika dibagikan segera maka silahkan, namun jika harus menunggu moment yang tepat demi kemaslahatan bersama maka silahkan saja. Namun tidak etik juga jika pembagian warisan ditunda hingga bertahun-tahun sehingga salah seorang ahli waris menguasai seluruh asset warisan.

Pertanyaannya adalah Bagaimana Pembagian Waris untuk ayah dan saudara kandung isteri pertama [almarhumah]?
Sebelum melaksanakan pembagian harta waris, terlebih dahulu memetakan harta pribadi isteri [almarhumah] dan harta bersama. Menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 85, 86 dan 87 ditegasnya adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemugkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri. Pada Pasal 86 : ayat (1) dijelaskan bahwa pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan. Dimana harta isteri tetap menjadi hak isteri dan dikuasai penuh olehnya, demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya. Adapun kategori harta masing-masing meliputi harta bawaan, warisan orang tua masing-masing, dan hibah. Adapun harta bersama atau syirkan adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami-istri selama dalam ikatan perkawinan berlangsung dan selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun.

Adapun harta yang masuk sebagai warisan almarhumah adalah harta pribadi dan separuh harta bersama, dimana separuh harta bersama menjadi hak suami dan separuh lagi menjadi hak almarhumah.

Sebagai contoh jika harta almarhumah sebesar Rp. 500.000.000, maka dibagikan kepada ahli warisnya yaitu suami, saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Saudara kandung mendapatkan hak waris karena pemilik harta tidak memiliki keturunan atau disebut dengan istilah kalalah, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

يَسۡتَفۡتُونَكَ قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيكُمۡ فِي ٱلۡكَلَٰلَةِۚ إِنِ ٱمۡرُؤٌاْ هَلَكَ لَيۡسَ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَهُۥٓ أُخۡتٞ فَلَهَا نِصۡفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهَا وَلَدٞۚ فَإِن كَانَتَا ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَۚ وَإِن كَانُوٓاْ إِخۡوَةٗ رِّجَالٗا وَنِسَآءٗ فَلِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۗ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ أَن تَضِلُّواْۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ١٧٦
“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. An Nisa: 176].
 
Jadi, suami mendapatkan ½, dan saudara kandung almarhumah mendapatkan sisa harta. Jika saudara kandung terdiri laki-laki dan perempuan maka bagian saudara laki-laki sebanyak 2x lebih besar dari bagian saudara perempuan.

Adapun skema pembagian waris berdasarkan keberadaan ahli waris, sebagai berikut:

1. Suami dan 1 saudara laki-laki = suami mendapat ½ dan 1 saudara Lk mendapat sisa yaitu ½
2. Suami dan 1 saudara perempuan = suami mendapat ½ dan 1 saudara perempuan mendapatkan ½ .
3. Suami dan 2 saudara perempuan = suami mendapat ½ dan 2 saudara perempuan mendapatkan 2/3
4. Suami, saudara laki-laki dan saudara perempuan = Suami mendapat ½ dan saudara laki-laki serta saudara perempuan mendapatkan sisa dengan ketentuan perbandingan 2:1.  
 
Demikian Jawaban dari kami. Waalahu a'lam bisshawwab.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tim Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam.

B

JawabBimas Islam