Fiqih (Muamalah)

Jika tegur sapa kita beberapa kali didiamkan. Apakah berdosa jika kita ikut diam?

Asssalamualaikum Ustadz, jika beberapa kali kita tegur sapa kita didiamkan seseorang, apakah berdosa jika kita ikut mendiamkan orang tersebut? karena capek juga tegur sapa kita terus menerus didiamkan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

S

TanyaSAH ()

Waalaikumsalam Warhmatullahi Wabarakatuh

Saudara yang kami hormati. Terimakasih telah berkonsultasi dengan kami. Jawaban dari pertanyaan Saudara adalah sebagai berikut:

Seorang muslim adalah penyayang, dan kasih sayang menjadi salah satu akhlaknya, sebab sumber kasih sayang adalah kejernihan jiwa dan kesucian rohani. Seorang muslim yang selalu melakukan kebaikan, menyayangi saudaranya, menjauhi kejahatan, dan menghindari kerusakan maka dia selalu berada dalam kesucian jiwa dan kesehatan rohani. Oleh karena itu, Allah SWT mewasiatkan kepada kita semua untuk bersungguh-sungguh bersikap saling sayang menyayangi di antara sesama, sebagaimana firman-Nya:

ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ١٧
Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” [QS. Al Balad: 17]
 
Seorang muslim tidak memandang berbaik itu sebagai sekedar akhlak utama yang menghiasi tingkah lakunya saja, akan tetapi dia memandangnya sebagai bagian dari akidahnya, dan merupakan bagian besar keislamannya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa barometer keislaman seseorang ditentukan oleh kualitas lisan [perkataan] dan tangannya [perbuatan] dengan tidak memisahkan keduanya. Terlebih jika direnungkan bahwa obyek akhlaq adalah manusia sebagai makhluq Allah, karenanya siapa yang menyayangi manusia berarti menyayangi Penciptanya, sebaliknya siapa yang merendahkan manusia berarti merendahkan Penciptanya. Sebagaimana sabda Nab Muhammad SAW:

إرحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
Sayangilah siapa yang ada di bumi, maka Dzat yang ada di langit akan menyayangimu.” [HR. Ath Thabrani dan al Hakim]

من لا يرحم لا يرحم
Siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” [HR. Bukhari]

Saudara SAH, menegur dengan sapaan ataupun ucapan salam adalah bagian dari akhlaq mulia, sedangkan orang yang ditegur wajib menjawab teguran maupun salam. Jika tidak, berarti dia menanam benih kebencian dan permusuhan. Allah SAW menjelaskan bahwa seseorang jika ditegur dengan ucapan salam maka dia wajib menjawab dengan ucapan salam yang serupa atau yang lebih baik.

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا ٨٦
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” [QS. An Nisa: 86]
 
Dan Allah SWT melarang seseorang memalingkan muka saat ditegur atau diucapkan salam, karena sikap itu simbol keangkuhan dan kesombongan diri. Firman Allah SWT:

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman: 18]
 
Untuk itu kami menyarankan agar anda tidak terpengaruh terhadap sikap saudara atau sahabat anda, tetaplah menjaga komunikasi, dan doakanlah semoga saudara/sahabat anda dapat merubah sikapnya. demikian Jawaban dari kami.
 
Waalahu a'lam bisshawwab.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tim Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam.

B

JawabBimas Islam