Fiqih (Ibadah)

Ibadah Shalat

Assalamualaikum . .
Selamat pagi ustdaz.
Saya mau bertanya,

1.apakah kalo kita ketika shalat subuh tidak memakai kunut itu syah apa tidak ?
2.saya kalo tahiyat ketika membaca shalawat tanpa memakai kata sayidina, itu boleh apa tidak ? Karena menurut saya kata sayidina itu tambahan saja karena shalawat nabi yg asli setau saya tanpa kata sayidina !
3. Saya klo shalat tanpa memakai usholi langsung takbir & berniat dlm hati berbarengan dengan takbir niat nya.
4.gimana cara shalat khusu, saya ketika shalat susah sekali khusu pikiran kemana - mana.
 
Itu pertanyaan saya karena saya bingung ada yg bilang cara shalat saya salah. Saya mohon penjelasan nya dari ustadz. Terimaksih sebelum nya atas jawaban nya saya ucapkan terimakasih
Wassalammualaikum wr.wb

H

TanyaHamba Allah (Kuningan)

Asalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Saudara/i yang dirahmati Allah...        
Jawaban dari pertanyaan Saudara/i adalah sebagai berikut:
 
1. Qunut sholat fajar (subuh) disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah pernah melakukan Qunut dan meninggalkannya, baik melakukannya dengan suara jahar (keras) atau pelan. Mensikapi hadits-hadits tersebut, ulama berbeda pendapat diantara mereka ada yang menyatakan sebagai sunnah selamanya atau sunnah yang hanya dilakukan saat terjadi bencana. Sedangkan Malikiyah dan Syafi'iyyah menyatakan sebagai Mustahab (dianjurkan) dan Hanafiyah dan Hanabilah tidak menganggapnya sebagai sunnah. Oleh karena itu qunut bukan merupakan salah satu rukun sholat, hanya sebatas sunnah (mustahab) menurut sebagian ulama sehingga bagi yang tidak melaksanakannya sholat tetap sah;
2. Kata sayidana dalam tasyahud, menurut ulama as-syafi'iyyah sebagaimana disebutkan Ali As-Syibromilsi dalam kitab Hasyiyah Ala Nihayatul Muhtaj dianjurkan dan begitu pula dengan ulama Hanafiah menganjurkan. Namun Ibnu Hajar Al Atsqolani salah satu ulama as-syafi'iyyah mengatakan, mengikuti lafadz yang diriwayatkan (ma-tsur) dengan tidak menggunakan sayidana dalam sholat lebih kuat (Arjah).
3. Niat dalam ibadah merupakan aktifitas hati dengan meneguhkan dan menghadirkan hati untuk melakukan sholat atau lainnya. Dalam kitab-kitab As-Syafi'iyah disebutkan dianjurkan melafalkan niat untuk membantu hati seperti halnya dalam niat ihram. Namun bila kita tidak melafalkan niat dan cukup meniatkan dalam hati maka niat tersebut telah mencukupi.
4. Khusu' merupakan sikap tenang, tunduk, merendah dan menghadap secara totalitas menghadap sang Kholiq dengan kerendahan diri. Hal-hal yang dapat membantu dan menciptakan khusu' dalam sholat diantaranya: mengagungkan sholat, mengenal Allah, mempersiapkan sholat, memahami fiqih sholat,
menggunakan sutrah (pembatas), fokus saat takbiratul ihram, menghayati doa iftitah dan bacaan al-Qur'an, merendahkan diri saat rukuk, menghadirkan kedekatan diri dengan Allah saat sujud, menghayati makna tasyahud, tidak menolehkan kepala saat sholat dan bersikap tenang dalam menjalankan sholat.
 
Demikian Jawaban dari kami. Wallahu a'lam bisshawwab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
TIm Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam
.

B

JawabBimas Islam