TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Upaya Kampus Menangkal Radikalisme
Wednesday, 19 September 2018 | 15:37
Noor Hidayat Kurniawan
Berita

koran-jakarta.com -- Tujuan diadakan acara penga­jian ini untuk mengenalkan Islam yang berkebudayaan di Undip. Acara ini mengangkat tema Ngaji Kebangsaan bertujuan untuk menanamkan semangat, mem­berikan pemahaman hubungan antara kebangsaan dan nasionalisme, mem­berikan pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin pada budaya dan kearifan lokal.
 
“Tema kebudayaan dalam Islam sangat menarik untuk memperkenal­kan Islam yang berkebudayaan kepada mahasiswa Undip dan masyarakat. Kegiatan dakwah Islam ini berlang­sung dengan baik. Harapan kami ngaji kebangsaan ini bermanfaat utamanya bagi mahasiswa dan pesan dakwah dapat tersampaikan,” ungkap Redyanto Noor, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip.
 
Rangkaian acara ngaji kebangsaan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, hiburan dari Rebana Undip, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Mel Shandy, prakata dari Redyanto Noor, serta uraian tausiah dari Profe­sor Yos Johan Utama (Rektor Undip), dakwah oleh Zastrow Al-Ngatawi (Budayawan) bersama kelompok musik etnik Ki Ageng Ganjur dan dakwah oleh Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta).
 
Habiburrahman menyampaikan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh ulama dan ahli tasawuf dengan penuh cinta. Islam di Indone­sia sebenarnya indah dan damai. Para ulama mengajarkan untuk menjaga kerukunan bangsa Indonesia seper­ti yang sudah tertera dalam Pancasila sebagai dasar negara. Namun diru­sak oleh paham-paham radikalisme melalui kekerasan sehingga merusak kerukunan bangsa Indonesia.
 
“Saya tertarik dengan acara ini ka­rena saya ingin mengetahui bagaimana cara menangkal radikalisme dengan kebudayaan Nusantara. Melalui acara ini saya mendapatkan ilmu yang ber­manfaat. Pengisi acaranya juga sangat menarik seperti penulis novel Ayat-Ayat Cinta,” ungkap Risetya, salah satu pe­serta Ngaji Kebangsaan.
 
Acara ditutup dengan menyanyikan lagu daerah, pembagian doorprize ke­pada peserta pengajian dan beberapa hiburan.
 
Ratusan jamaah mulai meramaikan pengajian akbar dalam rangka Dies Natalis Undip ke-61 di Lapangan Widya Puraya Undip.
 
Acara Ngaji Kebangsaan yang diketuai oleh Eko Rizki Abdul Ghoni kali ini bertujuan untuk menanamkan spirit kepada generasi muda, memberi­kan pemahaman mengenai hubung­an antara agama dan nasionalisme serta pemahaman mengenai Islam yg Rahmatan Lil ‘Alamin yang peka akan budaya dan kearifan lokal.
 
“Persiapan sudah dimulai sejak pertengahan Agustus dan acara ini dari Kelompok Mahasiswa NU yang beker­jasama dengan Dies Natalis Undip, “ tutur Eni selaku panitia.
 
 
 
Banyak jamaah yang antusias untuk menghadiri pengajian ini baik dari kalangan mahasiswa/i Undip, ibu-ibu Dharma Wanita, maupun masyarakat umum. “Dari acara ini, selain ingin me­nambah ilmu, Saya juga ingin ketemu Mas Habib Rohman penulis novel Ayat-Ayat Cinta,” tutur Ratna, mahasiswa Politeknik Negeri Semarang.
 
Sementara itu, Fakhriyah, salah satu peserta mahasiswa dari FIB Undip berharap semoga ke depan Undip lebih sering memberikan siraman rohani semacam ini. “Kalau harapan saya sen­diri, saya menginginkan semoga Undip ke depannya bisa lebih sering mem­berikan acara siraman rohani seperti ini,” ujarnya.
 
Menjaga Kelurusan Hati
 
Dalam gelaran Ngaji Kebangsaan ter­sebut, Rektor Undip dalam sambu­tannya mengatakan bahwa Undip menjadi benteng Pancasila dengan menjaga 4 pilar bangsa yang telah diperjuangkan oleh pendiri bangsa (founding father). “Sesuai amanat Presiden bahwa sebagai ucapan syukur dengan memperat rasa persatuan dan kebinekaan dengan memupuk rasa peduli, bersatu dan berprestasi. Dan syukur alham­dulillah Undip meraih rangking 5 besar nasio­nal untuk publikasi internasional ” ujarnya.
 
Lebih lanjut, Profesor Johan mengatakan untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Swt atas semua karunia dan rezeki sebagai umat muslim di Indonesia.
 
Sementara itu Ketua Panitia Kegiatan sekaligus Dekan FIB Undip Redyanto Noor, mengatakan bahwa tujuan dari acara ini ada­lah untuk meningkatkan rasa persatuan antar umat muslim dan sebagai sarana syiar ajaran agama Islam.
 
Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, Indonesia meletakan agama pada posisi strategis dalam ikut menata ke­hidupan berbangsa. Sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum bangsa merdeka, kehidupan se­mua etnis dan suku di Nusantara, di manapun wilayah geografisnya, diwarnai dengan nilai-agama.
 
“Kita bisa sebut mulai dari Aceh, Batak, Mi­nang, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Papua dan etnis lainnya tidak bisa terpisahkan dengan nilai-niai agama.Selain itu semua kearifan lokal di nusantara memiliki rujukan pada nilai-nilai agama. Tidak ada kearifan lokal yang tidak bisa dirujuk dengan nilai agama, terlepas apapun agamanya di Indonesia,” ungkap Menag, yang disampaikan saat men­jadi pembicara di gelaran Ngaji Kebangsaan ‘Mengasah Jati Diri Indonesia’ di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, beberapa waktu lalu.
 
Rektor UIN Walisongo Muhibbin dalam sambutannya berterima kasih atas kehadiran Menag Lukman Hakim Saifuddin dan semua pihak yang ikut mensukseskan Ngaji Kebang­saan.
 
“Mudah-mudahan Ngaji Kebangsaan ini akan memberikan manfaat bagi kita semua dalam mencintai bangsa dan negara,” ujarnya. pur/R-1
 
Sumber: http://www.koran-jakarta.com/upaya-kampus-menangkal-radikalisme/