TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Nasir Abbas Himbau Sisa Kelompok Santoso Menyerah secara Sukarela
Wednesday, 07 September 2016 | 15:13
Berita

Palu, bimasislam— Di hadapan tokoh agama dan tokoh masyarakat kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah Nasir Abbas menyampaikan kronologi masuknya faham radikal di Poso Sulawesi Tengah.  Selaku mantan pimpinan mantiqi 3 Jamaah Islamiah kala itu sekitar tahun 2001 mereka memasuki Poso dengan missi dakwah dan ingin membela masyarakat muslim Poso yang dilanda kerusuhan bernuansa sara, itulah sebabnya JI masuk di Poso Sulawesi Tengah.
 
Nasir Abbas menceritakan pada awalnya ia lahir di Singapura sebagai muslim lainnya, namun dalam perkembangan ia besar di Malaysia dan direkrut oleh kelompok radikal yang mencita-citakan kembalinya NII di Indonesia, ia mendapat doktrin untuk membantu umat muslim di Indonesia mendapatkan kembali NII. Oleh karena itu umat muslim sekitar regional harus membantu sesama muslim, apalagi dengan iming-iming jihad dan masuk surga tanpa hisab.  
 
Faham radikal ini berdasarkan ayat-ayat alquran barangsiapa yang tidak menegakkan hukum-hukum Allah, maka mereka tergolong orang-orang kafir, orang-orang fasiq.  ‘’Oleh karena itu mereka yang tidak menegakkan hukum-hukum Allah halal untuk diperangi,’’ ujarnya menjelaskan mengapa kemudian menjadikan Poso sebagai arena jihad, karena di poso terjadi konflik sara yang mengorbankan umat Islam.
 
Namun dalam perkembangannya terjadi Doklarasi Malino yang memuat perjanjian damai dan harus dipatuhi oleh semua pihak, karena itu Nasir Abbas yang kala itu selaku pimpinan menghimbau agar menghentikan semua aksi dan patuh kepada perjanjian Malino. Sehingga dalam rentan tersebut tidak ada aksi kekerasan yang melibatkan kelompoknya, sampai ia tertangkap dan tidak lagi mengendalikan aksi-aksi di Poso. Yang terjadi kemudian adalah terjadinya aksi-aksi dilapangan yang mengakibatkan banyak terjadi penangkapan dan penindakan oleh aparat penegak hukum.
 
Menurutnya telah terjadi perubahan arah perjuangan di Poso yang tadinya untuk membela umat Islam, tetapi yang terjadi kemudian adalah ajang balas dendam yang menuntut ‘’keadilan’’ kelompok ini menganggap bahwa korban harus sama dari pihak Islam dan pihak lawan. Demikian pula bergabungnya kolompok poso dengan mendukung ISIS adalah bentuk penyimpangan yang lainnya. Itulah kemudian Nasir Abbas kembali ke Islam yang sebenarnya dan sekarang ini berjuang untuk menyadarkan teman-teman yang masih dalam kungkungan faham radikal, walaupun dengan resiko di-‘’kafirkan’’ oleh kelompok ini. ‘’Mudah-mudahan mereka 15 orang yang tersisa dari kelompoknya Santoso mau secara sukarela menyerahkan diri, kita tidak menginginkan adanya korban lagi,’’ ungkapnya.
 
Selain Nasir Abbas, tampil memberikan ceramah, Kabid Bimas Islam Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Tengah DR H Nasruddin L Midu, M Ag. Menghimbau kepada umat beragama bahu membahu dalam membentengi umatnya dari pengaruh faham radikal yang mengatasnamakan agama, karena muaranya akan menjadi terorisme.
 
‘’Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan, apalagi agama Islam tidak mengajarkan kekerasan dan pembunuhan karena perbedaan keyakinan,’’ katanya.     
Menurutnya, agama Islam adalah agama damai, agama yang membawa rahmatan lil alamin, oleh karena itu umat Islam harus membawa damai, membawa kasih sayang kepada sesama manusia. Karena itu umat Islam harus mewaspadai berkembangnya faham-faham yang radikal mengatasnamakan agama Islam. ‘’Itulah sebabnya Islam yang berkembang di Indonesia adalah seperti yang dicontohkan KH Hasyim Asyari, KH M Dahlan di Pulau Jawa, diajarkan dan dicontohkan  Habib Idrus Bin Salim AlJufri dan Gurutta KH As’ad di Pulau Sulawesi, dan lainnya. Pada Penyuluhan Kontra radikal dan deradikalisasi dilaksanakan Aula Polda Sulawesi Tengah dibuka oleh Kapolda Sulawesi Tengah, dihadiri perwira utama dari Polda Sulawesi Tengah, Densus 88 Bagian Pencegahan.     
 
(ramli/sulteng/bimasislam)