TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Mengingatkan Bahaya Pornografi di Era Digital
Wednesday, 19 September 2018 | 16:28
Noor Hidayat Kurniawan
Berita

Jakarta, INDONEWS.ID - Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat biasa disingkat LPER yang diwakili oleh Ketua Panitia Eka Mardiyanti mengungakapkan kepeduliannya terhadap maraknya penggunaan alat komunikasi untuk tujuan negatif dan merusak moral bangsa, maka sangat tepat bekerjasama dengan KOMINFO dan Siber Kreasi, menggelar bincang- bincang & diskusi umum skala internasional pada tanggal 12 September 2018 di Kominfo Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, tentang bahaya pornografi, yang akhir-akhir ini semakin menyebar keseluruh dunia karena  mudah diakses melalui internet.
 
Menurut Dirjen APTIKA Kominfo selaku keynote speaker seminar ini. Tema yang di usung cukup serius yaitu Membangun Anak Bangsa Yang Cerdas, Berkualitan dan Berprestasi, seiring dengan kemajuan era digital.
 
"Kalau dulu zaman kuliah saya di Amerika bisa bilang jangan ada campur tangan pemerintah soal dunia komunikasi ini, sekarang justru konten negatif, penanggulangannya harus melibatkan pemerintah sebagai regulator, orang tua dan masyarakat adalah pengguna juga harus ikut mencegah penggunaan situs yang  merusak moral bangsa," katanya usai meresmikan pembukaan Bazar UKM didampingi Bakri Maulana.
 
Sementara itu, pembicara yang datang khusus dari Amerika John Harmer menilai betapa menyedihkan era digital ini.
 
" Bagaimana antar keluarga sudah tidak saling akrab, sehingga penggunaan internet sulit dikendalikan dan efek nya anak- anak mudah terjerat pornografi, dan ini Pemerintah harus ikut campur mengawasi sesuai peraturan yang berlaku," ujar mantan Wakil Gubernur California ini kepada Indonews usai acara.
 
Sedangkan pembicara lainya Teguh Arifiyadi dari Kominfo mengatakan,  pengguna gadget tahun 2014 hingga 2017 mengalami lonjakan yang pesat. Dimana pada tahun 2014 sebesar 88,1 juta orang, tahun 2017 melonjak menjadi 143,26 juta naik 62, 61 persen selama 3 tahun.
 
" Maka bisa dibayangkan sulitnya menutup situs-situs konten negatif, mereka juga sudah menyiapkan cara bagaimana transaksi seksual menggunakan layanan online dengan mudah melalui hp atau gadget tadi," ujarnya.
 
Pemerintah dalam hal ini Kominfo tidak tutup mata dan akan terus melakukan pemantauan dan pemblokiran akun-akun yang terbukti memuat konten-konten yang tidak mendidik dan menjerumuskan khususnya anak-anak dibawah umur bisa melakukan seks bebas yang sangat berbahaya efeknya.
 
Sementara itu, anggota Ombudsman Alvin Lie  memberikan masukan kepada Kominfo agar konsisten menegakkan peraturan antara lain registrasi kepemilikan alat komunikasi 1 orang harus dibatasi pada jumlah kepantasannya, jangan seperti sekarang 1 orang bisa beli alat komunikasi sampai ratusan.
 
Menurut Alvin, sudah tidak benar dan hanya menyandarkan pada urusan profit atau kepentingan bisnis semata, maka pantaslah kominfo mengalami kesulitan menutup situs porno dan lainnya.  Karena pertumbuhan pemakainya sangat cepat dan bebas.
 
Pembicara lain  Brent D. Ward JD Ahli penegak hukum untuk Drug, Traficking &Pornografi dari USA dan dr. Pukovisa Prawirohardjo ahli Syaraf peneliti gangguan otak akibat pornografi, mengungkapkan keprihatinan yang sama dengan pembicara yang lain.
 
Acara Seminar ini dihadiri juga Francisca Sestri Sekjen LPER dan Ketua Bidang Hukum &Legal Nenden Esty Nurhayati.(hdr)
 
Sumber: http://indonews.id/artikel/15881/Mengingatkan-Bahaya-Pornografi-di-Era-Digital/