TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Literasi Digital Siapkan SDM Unggul dan Cerdas Bermedsos
Thursday, 23 August 2018 | 05:15
Noor Hidayat Kurniawan
Berita

JPP, JAKARTA - Sebagai negara dengan jumlah penduduk hampir 260 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dan maju.
 
Presiden Joko Widodo dalam Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR 2018 Tahun 2018 menyebutkan saat ini pemerintah fokus untuk memperkuat pendidikan serta pelatihan vokasi untuk melahirkan sumber daya manusia terampil, yang siap memasuki dunia kerja.
 
"Oleh karena itu, kita terus dorong pendidikan tinggi untuk melakukan terobosan-terobosan sehingga lulusan perguruan tinggi bisa lebih adaptif di era Revolusi Industri 4.0, termasuk kemampuan dalam literasi digital, serta mampu menumbuhkan lebih banyak lagi wirausahawan- wirausahawan muda yang kreatif dan inovatif," ungkapnya dalam Pidato Tahunan di Gedung MPR DPR Senayan, Jakarta, Kamis (16/08/2018).
 
Upaya menyiapkan manusia Indonesia yang maju dan unggul, juga menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Informatika.
 
Melalui Program Literasi Digital, dirancang kebijakan dan upaya kolaboratif untuk mengedukasi warga negara agar ikut secara aktif berpartisipasi dalam penanggulangan konten negatif di internet.
 
Konten negatif seperti hoaks, perundungan siber, ujaran kebencian, kejahatan siber, radikalisme digital, dan pornografi seperti tersebut di atas menjadi ancaman riil masyarakat di era ini.
 
Kementerian Kominfo menjadikan literasi digital sebagai program prioritas. Kegiatan dalam program itu mencakup pembangunan sumber daya manusia dan rekayasa digital melalui penapisan internet.
 
Upaya membangun literasi digital dilakukan melalui tiga aktivitas utama, pertama, membangun kecakapan untuk antikonten negatif seperti hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, pornografi, dan pembajakan.
 
Kedua, peningkatan kecakapan untuk memproduksi konten positif seperti bijak bermedia soaial, pengembangan ekonomi digital termasuk startup, e-commerce, wirausaha digital dan optimasi internet untuk pendidikan.
 
Ketiga, pengembangan kecakapan transformasi digital antara lain coding, big data analysis, keamanan siber, privasi, regulasi, kecerdasan buatan, advanced robotics serta teknologi 4.0 lainnya.
 
Target sasaran siswa mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas dan kejuruan sampai mahasiswa perguruan tinggi. Tak hanya itu, literasi digital juga diarahkan kepada orang tua dan guru sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
 
Program-program pelatihan literasi digital secara intensif dan berkala kepada masyarakat. khususnya dalam upaya untuk menangkal hoax. Oleh karena itu, program itu melibatkan pula aparat penegak hukum, aparat sipil negara, kalangan profesional dan masyarakat umum.
 
Raih Penghargaan
 
Sejak Program Liiterasi diluncurkan tahun 2017 sampai dengan bulan Juni 2018, literasi digital yang dilakukan lewat kampanye digital maupun pertemuan langsung dalam FIRAL, Festival Literasi Digital telah menjangkau 123.339 orang dengan 167 kegiatan di 70 lokasi.
 
Program Literasi Digital yang digagas oleh Kementerian Kominfo bersama stakeholders mendapatkan penghargaan nasional dari Mark Plus sebagai Indonesia Brand Endorsement of The Year 2018.
 
Tak hanya itu #Siberkreasi dan #Internet CAKAP mendapat penghargaan sebagai Champion dalam WSIS Prize 2018 oleh International Telecommunication (ITU) PBB.
 
Ke depan, Program Literasi Digital sampai tahun 2020 ditargetkan bisa melibatkan 12,8 juta peserta aktif dengan penyelenggaraan kegiatan di 514 ibukota kabupaten dan kota. Selain itu bisa menghadilkan 200 materi buku dan video literasi digital dan 100 hub digital dengan akses gratis untuk publik.
 
Penapisan Internet
 
Seiring dengan literasi digital, Kementerian Kominfo juga melakukan filtering atau penapisan konten negatif. Saat ini tidak hanya dilakukan melalui blokir atau DNS-filtering, tapi juga mengajak penyedia jasa internet mengaktifkan safe search untuk menapis konten pornografi.
 
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebut filter safe search sudah bisa menapis 98 persen konten negatif dalam pencarian di platform search engine google.
 
"Kami melakukan meminta 25 ISP melakukan routing default ke safe search di mesin pencari Google," kata Rudiantara.
 
Menteri Kominfo menyatakan nantinya pemblokiran ini juga akan dilakukan pada mesin pencari lainnya seperti Opera atau Mozilla Firefox. Upaya penyaringan terpusat itu dilakukan karena belum semua masyarakat Indonesia memahami pengaturan safe search.
 
"Berbeda dengan pengguna di Amerika Serikat yang telah mengaktifkan pengaturan pencarian aman ini secara mandiri. Di Indonesia kalau mengandalkan pengaturan manual itu ya tidak bisa. Masyarakat Indonesia tingkat literasi digitalnya jauh di bawah Amerika. Jadi pemerintah mengambil keputusan ini, karena konteks pornografi itu jelas," kata Rudiantara.(kom)
 
Sumber: https://jpp.go.id/teknologi/pendidikan/324073-literasi-digital-siapkan-sdm-unggul-dan-cerdas-bermedsos