TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
SINERGI KEARIFAN LOKAL DAN TATA KELOLA MODERN MAJUKAN SUKABUMI LEWAT ZAKAT
Monday, 19 February 2018 | 12:33
Artikel

Tiga tahun terakhir ini, Desa Nanggerang Kecamatan Cicurug Kabupaten Sukabumi semakin dikenal karena tata kelola zakat yang diterapkannya, di mana setiap kekuarga menyisihkan uang 500 rupiah setiap hari.
 
Kunci sukses gerakan zakat dan sedekah tersebut, tak lepas dari kejelian para tokoh dan aktivis NU dalam melihat potensi kearifan lokal di sana. Di kalangan urang Sunda Sukabumi telah berkembang lama tradisi beas perelek.
 
Beasatau beras dikumpulkan sepekan sekali dan dikumpulkan oleh salah seorang petugas yang berkeliling memanggul karung dari rumah ke rumah. Tradisi yang dapat berfungsi mengantisipasi ancaman kekurangan stok pangan ini menjadi modal sosial bagi kebangkitan gerakan ZIS di Sukabumi.
 
Tradisi tak dihilangkan. Hanya saja meningkat intensitasnya dengan gerakan Rp500 setiap hari, serta pemaknaan terhadapnya sebagai bagian dari kegiatan ibadah semakin tinggi.
 
Selain sinergi dengan pemerintah setempat, keberhasilan gerakan filantropi ini juga sangat dipengaruhi oleh manajemen pengelolaan yang tertata. Dewan pengurus dibentuk dengan melibatkan pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat.
 
Distribusi tugas, perencanaan, dan laporan-laporan, pun dijalankan. Semuanya digerakkan secara profesional tanpa mengurangi semangat kerelawanan dan gotong royong para pengurus yang mengemban amanah.
 
Juru sosialisasi dan pengurus ZIS dituntut memberikan keteladanan sebelum mengajarkan. Dengan demikian, sistem terbangun mapan, semangat berderma kian berkembang, dan target pun mudah diraih.
 
Gerakan tersebut termuat dalam buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi yang disusun tim NU Care-LAZISNU. Semangat berzakat bukan terletak pada jumlah uang yang terkumpul, melainkan seberapa besar kesuksesan membangun kesadaran untuk berbagi pada masyarakat itu dicapai.
 
Hal paling inti dari sebuah gerakan filantropi adalah tumbuhnya empati, gotong royong, dan kepedulian antarsesama. Semangat dari Sukabumi ini juga mengajarkan kita bahwa “hal kecil” yang dijalankan secara kontinu (istiqamah) dan berjamaah akan menjelma sebagai hal yang berdampak besar. (*)
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam