TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Sifat-sifat Berikut Ini yang Menjadi Benih Radikalisme
Monday, 19 February 2018 | 14:00
Artikel

Seseorang bisa menjadi radikal atau ekstrem karena berbagai sebab. Ia bisa menjadi kadikal karena situasi yang ada di sekitarnya menyebabkannya demikian. Ia bisa menjadi radikal karena terpengaruh atau terprovokasi dengan keadaan. Namun sungguhpun demikian seseorang menjadi radikal karena mempunyai karakter kejiwaan yang mendukung untuk itu.
 
Mereka yang dimaksud ini sangat mudah tersinggung, marah dan gampang menuduh orang lain sesat, munafik, murtad atau bahkan kafir. Mereka gemar menyakiti hati manusia lain termasuk sesama muslim, apalagi terhadap non muslim. Sifat-sifat seperti inilah yang menjadi benih dari radikalisme, ektremisme dan bisa berujung pada tindangan terorisme.
 
Mereka yang memempunyai sifat demikian itu mungkin saja rajin beribadah. Mereka terkadang terlalu bersemangat dalam beragama namun tidak memahami maksud utama agama ini.
 
Mereka juga mudah menstigma negatif orang berbeda penafsiran dan berbeda ekspresi keagamaannya dengan sebutan kafir misalnya. Takfir atau pengkafiran terhadap orang lain yang berbeda pendapat atau keyakinan mudah sekali dilakukan. Takfir kemudian menjadi alasan untuk menumpahkan darah, merampas harta benda dan melanggar kehormatan orang lain.
 
Pada gilirannya, jika merasa sudh mempunyai kekuatan dan kemampuan, mereka juga bisa berupaya berupaya merebut kekuasaan dari tangan pemerintahan yang sah karena mereka anggap tidak sah. Dianggap tidak sah karena berhukum kepada selain hukum Allah atau pemerintahan thaghut. Perlawanan hingga pembunuhan terhadap aparat pemerintahan yang mereka kafirkan itu mereka anggap sebagai jihad atau minimal dengan dalih nahi munkar, mencegah kemungkaran. Perlawanan dilakukan dengan cara apapun, termasuk dengan cara melakukan teror, bahkan tindakan bunuh diri.
 
Untuk membenarkan tindakan berdasar asumsi yang sebenarnya keliru itu maka mereka mengutip dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits yang sesuai dengan nafsu amarah dan kepentingan mereka.
 
Mereka membaca al-Qur'an juga namun tidak memahami maksud sebenarnya. Bacaan terhadap ayat-ayat al-Qur'an mereka seringkali menjadi dalih pembenar untuk menyerang orang lain terutama orang-orang yang mereka benci di luar komunitasnya. Mereka menafsirkan al-Qur'an mengikuti hawa nafsunya dan seringkali menempatkan ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi tidak pada tempatnya.
 
Semoga kita semua diselamatkan dari sifat-sifat amarah, selalu benci dan seterusnya yang mengganggu kejiwaan kita. Semoga kita semua diberikan anugerah berupa ilmu dan kepahaman sehingga mampu menjalankan ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI