TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Menyikapi Gerakan Radikal Berbasis Paham Keagamaan
Wednesday, 07 September 2016 | 15:38
Artikel

Thobib Al-Asyhar
 
Di tengah kehidupan masyarakat yang sangat majemuk, khususnya di lingkungan internal umat Islam, tantangan terbesar saat ini adalah munculnya berbagai gesekan paham akibat dari beragamnya paham keagamaan. Dalam hubungan antara umat beragama mudah bagi kita untuk mengelola problem-problem sosial karena memiliki garis tegas antara satu agama dengan agama yang lain. Namun, dalam hubungannya dengan seagama yang memiliki keragaman paham justru menjadi pelik.
 
Ketika merujuk pada teori dan doktrin keagamaan memang secara tegas Allah memerintahkan kepada setiap orang untuk bersatu dengan berpegang teguh pada ajaran-Nya. Hanya saja, pada tataran praksis tidak mudah menyandingkan berbagai paham dan keyakinan hidup secara berdampingan. Sejarah mencatat banyak konflik yang “dilatarbelakangi” oleh karena perbedaan atas tafsir beragama. Konflik ini terus mengisi memori umat setelahnya dan mendorongnya untuk membawa konflik dalam kehidupannya. Akibatnya, konflik masa lalu selalu menjadi pemicu lahirnya konflik masa kini.
 
Hal yang sering muncul dalam keragaman beragama adalah lahirnya kelompok radikal. Sebagaimana kita ketahui bahwa radikalisme identik dengan perilaku intoleran terhadap perbedaan, ekstrem dalam menyikapi masalah, dan menjadikan kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah. Masih ada sebagian kelompok masyarakat yang belum bisa menerima arti perbedaan. Akibatnya perbedaan dipaksa harus melebur dalam satu pemahaman yang mereka bangun. Tragedi kekerasan kelompok radikalis juga meninggalkan pesan bahwa pemahaman merekalah yang paling benar. Perbedaan pendapat yang seyogyanya menjadi sebuah dinamika kehidupan yang harus didialogkan, justru menjadi alasan untuk adanya pemaksaan pendapat terhadap mereka yang kontra.
 
Radikalisme agama di setiap zaman selalu menjadi public enemy karena selalu menimbulkan berbagai kerusakan di tengah-tengah masyarakat. Sikap kelompok radikalis dalam bersosialisasi dengan kelompok lainnya telah melahirkan berbagai tragedi sosial berupa runtuhnya rasa kebersamaan dan saling menghormati. Ketika kelompok lain bersebarangan, maka permusuhan dikumandangkan dan kekerasan menjadi cara penyelesaiannya. Kehidupan yang seyogyanya tumbuh dalam bingkai kebersamaan dan saling menghormati, diruntuhkan oleh sikap egois dan mementingkan diri sendiri.
 
Harus diakui, agama oleh bangsa Indonesia belum sepenuhnya dijabarkan nilai-nilai profetiknya untuk melakukan perubahan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini antara lain disebabkan masyarakat masih memposisikan agama sebagai sacramental religion, yakni corak keberagamaan yang bersifat ritualistik-spiritualistik. Padahal, agama yang ada di Indonesia merupakan agama etik (ethical religion), berorientasi pada pengembangan etika dalam arti yang seluas-luasnya (moralitas agama).
 
Di sinilah kita melihat perlunya penegasan kembali akan fungsi agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama perlu diperkuat perannya dalam rangka  mengaplikasikan moralitas ketuhanan kedalam kehidupan masyarakat menuju kehidupan yang bermoral dan manusiawi.
Untuk mewujudkan hal tersebut dan menekan terhadap sikap dan perilaku radikal dalam beragama, kita perlu melakukan langkah-langkah konkrit, diantaranya adalah mengintensifkan program-program deradikalisasi pendidikan agama. Hal ini diperlukan karena ada kecenderungan paham-paham radikal telah masuk melalui lembaga-lembaga pendidikan.
 
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pusat kiblat peradaban Islam di dunia. Keberhasilan Indonesia dalam membangun kerukunan dan berdemokrasi adalah bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan yang baik dalam pembangunan kualitas kehidupan beragama. Kita boleh berbangga,bahwa Indonesia saat ini menjadi kekuatan penyeimbang dan netral dalam berbagai konflik, baik yang melibatkan antar dunia Islam maupun antara dunia Islam dan Barat. Ini semua diperoleh melalui berbagai usaha yang tak kenal lelah dari seluruh elemen bangsa, khususnya tokoh agama dan ormas Islam.
 
Pada saat yang bersamaan, munculnya beberapa kejadian yang “terkesan” intoleran dan gerakan-gerakan radikal di beberapa belahan nusantara, sedikit mengganggu ketenteraman,serta citra Indonesia di mata dunia internasional. Kita mencatat beberapa kali media internasional dan lainnya begitu tajam menyoroti kejadian-kejadian intoleran dan radikal yang dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip HAMdan demokrasi. Tentu, Kementerian Agama bersama ormas Islam dan tokoh-tokoh agama berada di garis terdepan dalam menangkal berbagai pencitraan negatif yang sangat potensial merusak citra Indonesia.
 
Kami bersama para ulama, Ormas Islam dan tokoh-tokoh agama menghimbau kepada seluruh ummat Islam Indonesia untuk meningkatkan kehati-hatian dan memiliki kewaspadaan dalam menyikapi isu gerakan radikalisme berbasis agama. Kita berkomitmen bahwa apapun yang berpotensi merusak perdamaian NKRI, harus segera dicegah dan ditangani secara komperehensif.
 
Dalam menyikapi isu ini, kepada seluruh umat Islam Indonesia dan pimpinan Ormas Islam harus selalu mengedepankan semangat ukhuwah Islamiyah dan kerukunan nasional. Kepada para ulama, kyai, dan tokoh agama kiranya perlu mengintensifkan pembinaan kepada umatnya masing-masing agar masyarakat tidak terprovokasi terhadap isu-isu yang tidak perlu. Umat Islam dan segenap kekuatan bangsa tidak boleh terpecah-belah dan terjebak dalam strategi adu-domba yang dapat merugikan kepentingan umat yang lebih besar. Tentu, untuk menuju ke arah sana, kami sangat berkepentingan menyamakan persepsi guna menentukan langkah-langkah strategis dalam pencegahan radikalisme agama.
 
Kementerian Agama senantiasa memegang teguh komitmen kebangsaan dalam bingkai NKRI. Bersama ulama, kami akan terus bersinergi membangun kehidupan keagamaan yang lebih baik, termasuk di dalamnya pencegahan atas potensi radikalisme dan ekstrimisme yang dapat merusak citra Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian.
 
Thobib Al-Asyhar, dosen PPs Universitas Indonesia