TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Menolak Keragaman Indonesia Berarti Melawan Sunatullah
Monday, 19 February 2018 | 12:30
Artikel

Keragaman Indonesia bisa dikatakan nyaris sempurna. Ragam dalam budaya, agama, suku bangsa, bahasa, sampai flora dan faunanya. Keragamana tersebut merupakan anugerah luar biasa dari Allah SWT. 

Keragaman adalah sunatullah, given, karenanya pikrian, kehendak menyeragamkan realitas kemajemukan sesunguhnya boleh dikatakan melawan, menentang kehendak Tuhan.

Tuhan menghendaki keragaman di tengah-tengah umatnya supaya bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Banyak ayat Al-Quran tentang keragaman. Kalau saja Allah menghendaki menciptakan kita semua umat yang satu, maka Allah bisa. Tapi Allah tidak melakukan itu.  

Melalui keragaman itu, manusia hadir di muka bumi diperintahkan mengelolanya atau disebut dengan khalifah. Dengan konsep khalifah, manusia dituntut mampu menjalani keragaman yang mendatangkan kamaslahatan.

Oleh karena itu yang diperlukan dari kita dalam menghadapi keragaman bukan menyeragamkan, tapi menjaga kemajemukan itu.

Dalam menjaga keragaman, Indonesia harus bersyukur pada para pendahulu yang telah mengajarkannya. Misalnya melalui istilah tepo seliro yang mengandung dua unsur, yaitu toleransi dan tenggang rasa. 

Toleransiadalah bagaiamana untuk bisa menerima, menghormati perbedaan yg dimilki orang lain, meski tidak menyetujuinya. Sementara Tenggang rasa adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain dari ucapan dan tindakan kita. 

Ada ungkapan tokoh legendaris dari Sulawesi Utara, Sam Ratulangi, yang mengatakan, manusia belum bisa dikatakan sebagai manusia kalau belum mampu memanusiakan manusia. 

*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI