TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Menjadi Muslim yang Kaffah?
Monday, 19 February 2018 | 13:09
Artikel

Kesempurnaan Islam bukan saja dimaksudkan untuk menekankan keunggulan agama ini di atas agama-agama lain akan tetapi juga menuntut adanya kesadaran bagi pemeluknya untuk menjalani agama secara utuh (kaffah).
 
Sejak diturunkan pada abad ketujuh lampau, Islam hadir sebagai agama yang menyempurnakan agama para Nabi sebelumnya. Dalam pengertian yang lebih jauh, letak kesempurnaan agama ini karena ia membawa seperangkat prinsip-prinsip dasar yang mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia; dari pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara; dari sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga kebudayaan. Lebih jauh lagi, kesempurnaan ajaran Islam juga bersifat utuh, saling menopang satu dengan yang lainnya.
 
Simbol kesempurnaan dan keutuhan agama ini terukir tegas dalam firman Allah yang berbunyi: “Al-yauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu alaikum ni`matî waradlîtu bikumul Islâma dîna.”Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku serta telah Aku relakan Islam sebagai agamamu.” (QS Almaidah [5]: 3)
 
Kesempurnaan dan keutuhan ajaran Islam sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di atas pada dasarnya bukan semata-mata ditujukan sebagai bukti kebenaran dan keutamaan agama Islam di atas agama-agama lain, akan tetapi juga memiliki konsekuensi logis, yakni; adanya tuntutan untuk menjalani seluruh aspek kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar tersebut.
 
Seorang muslim harus taat beribadah kepada Allah, bertanggungjawab akan keselamatan keluarga (baik keselamatan duniawiyah maupun ukhrawiyah) dan berbuat baik kepada sesama anggota masyarakat serta menjadi warga negara yang bertanggungjawab, menjalankan zakat, menjauhi eksploitasi ekonomi, jujur dalam politik, adil dalam hukum,  berdedikasi pada ilmu dan pendidikan, tidak merusak lingkungan serta menciptakan kebudayaan yang bermartabat.
 
Demikianlah. Setiap umat Islam dituntut untuk menjalani ajaran Islam secara utuh (kaffah) sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara utuh, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS Al-Baqarah [2]: 208)
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI