TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Kilas Piagam Madinah, Piagam Perdamaian
Monday, 19 February 2018 | 13:54
Artikel

Ketika Nabi Muhammad berada di Makkah selama 13 tahun untuk membangun komunitas yang militan, Nabi Muhammad SAW melakukan kaderisasi ukhuwah Islamiyah. “Yang Islam saudara, yang bukan Islam bukan saudara.” Inilah generasi pertama Islam.
 
Setelah pindah ke kota Yasrif (Madinah). Kota ini ternyata penduduknya majemuk. Penduduk Islam lokal namanya Ansor, para pendatang dinamakan Muhajirin, dan Yahudi sendiri ada tiga suku. Masih ada juga golongan lainnya musyrik dalam jumlah kecil.
 
Nahsetelah melihat masyarakat Yasrif yang majemuk, maka Rasulullah tidak lagi menggunakan istilah ukhuwah Islamiyah, tetapi ukhuwah madaniyah, persaudaraan untuk seluruh penduduk. Semua sama kedudukannya dalam hukum, siapapun dia. Siapapun yang salah, tidak melihat sukunya harus dihukum. Demikian sebaliknya. Inilah yang dinamakan tamaddun. Maka Yasrif kemudian namanya dirubah menjadi Madinah.
 
Ini artinya kota yang sudah menggunakan nilai-nilai universal. Dalam Piagam Madinah terdapat 47 pasal. Nabi bertemu dengan seluruh pimpinan suku dan kemudian sepakat mengelurakan kesepakatan Madinah. Bisa dilihat di kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisam halaman 120-122, ada dua setengah halaman.
 
Nah dari 47 point itu tidak ada kata Islam, tidak ada. Tidak satupun mengutip Al-Qur’an. Prinsip-prinsip universal saja yang digunakan. Malah dalam poin 15 disebutkan semua agama diberi kebebasan menggunakan agamanya masing-masing. Terakhir dalam Piagam Madinah ini disebutkan bahwa kesepakatan ini untuk membela yang benar.
 
Ini bukan omong kosong, yang selanjutnya ditaruh di rak saja. Terbukti ketika ada orang Islam membunuh Yahudi, Nabi marah dan bersabda: “Barangsiapa yang membunuh orang non Muslim, maka ia berhadapan dengan saya. Saya pengacaranya,” begitulah kira-kira. Luar biasa Akhirnya Nabi terpaksa mencari para donor untuk menyumbang ahli waris Yahudi sebagai ganti ruginya. Ini bukan omong kosong.
 
Lagi, suatu saat ada janazah yang lewat, Nabi berdiri untuk menghormatinya, dibilangin, ini jenazahnya orang Yahudi. Dijawabnya .”Ya saya tahu ini jenazahnya orang Yahudi”.
 
Nah, Indonesia ini kondisinya seperti Madinah, ada sekian agama, sekian etnis, sekian budaya. Maka untuk menjaga persatuan, Islam ini kita amalkan, tidak kita konsittusikan, tidak kita legal formalkan. Tapi kita amalkan setiap waktu, sholat, puasa, zakat, haji, apalagi akhlak. Akhlak Islam, tapi negara biarkan negara kesatuan.
 
Dulu ada KH Wahid Hasyim, salah satu dari anggota tim sembilan PPKI, setuju penghapusan 9 kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan. Kiai Wahid Hasyim mengusulkan adanya Departemen Agama yang fungsinya khusus untuk membangun keagamaan, agar hidup rukun antara agama dan menjalankan agama-masing-masing dengan baik.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI