TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Kelong Bisikan Agama Sedari Bayi
Monday, 19 February 2018 | 12:31
Artikel

anaaakkk
assambayangko nutambung 
pakajai amalkanu 
mateko sallang 
nanu sassalak kalennu 

Kalimat-kalimat tersebut dinamakan kelong atau syair pengantar tidur atau meninabobokan bayi-bayi Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan. Makna dalam bahasa Indonesia syair itu adalah “tegakkanlah shalat terus menerus/perbanyak amalmu/kelak engkau wafat/dan engkau menyesali dirimu”.  

Ketika Islam datang ke wilayah Sulawesi, disebarkan oleh para ulama sekitar abad ke-13 Masehi, salah satunya melalui jalur kesenian, di antaranya melalui kelong tersebut. Islam disampaikan tidak dengan Al-Qur’an terlebih dahulu, tapi dengan lokal genius, melalui alat musik dan sastra tutur atau kelong.   

Kelong adalah ungkapan-ungkapan tetua. Kelong (dalam bahasa Bugis elong) semakna dengan passang. Dalam bahasa indonesia artinya pesan atau amanat. Amanat tetua Islam tentang shalat, zakat, haji, puasa, disampaikan dengan cara seperti itu. 

Sampai saat ini umumnya kelong bersifat anonim. Namun demikian, terdapat beberapa naskah manuskrip dengan huruf Lontara yang di dalamnya banyak terdapat kelong. Ketika sampai ke masyarakat, pengarangnya sudah tidak diketahui.

Kelong itu dibacakan kepada anak-anaknya ketika mau tidur, dininabobokan, sambil diayun. Kalau di Makassar namanya eya eya oo. Kalau di Bugis namanya ejabelale. Syair-syairnya hampir sama yaitu harapan dan doa. 

Dari segi bentuk, ada yang kelong agama yang berisi ajaran-ajaran atau pesan, ada juga kelong simpung pa'mai' (syair bersedih hati). Tapi masih ada jenis-jenis yang lain. 

Namun saat ini kelong terseok-seok di tengah tradisi global. Sudah jarang orang tua membisikan kelong kepada bayi-bayinya. Mungkin lama-lama bisa punah dari muka bumi. Di antara penyebabnya, arsitektur rumah dan kebiasaan orang tua yang tidak lagi membuat ayunan untuk anak-anaknya. 
 
Kalaupun ada yang masih diayun, tapi sudah tidak lagi diiringi kelong, melainkan lagu-lagu yang ngetrend hari ini. Hal itu penyebabnya karena penyebaran kelong dari generasi tua ke generasi muda tidak simultan.
 
Padahal semestinya dikembangkan agar tetap menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai religiusitas keislaman dan ajaran moral secara universal.

eyaa eyaa eyaa oo, eyaa eyaa eyaa  oo (aduhai, aduhai)
tutuko maklepa lepa, anaaak  (hati-hatilah berdayun sampan, anakku)
makbiseang rate bonto (berperahu di atas pematang) 
tallangko sallang (KELAK engkau tenggelam) 
nana sakkoko alimbukbuk  (dan tersedak debu)
 
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI