TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Islam Tak Benarkan Masyarakat Main Hakim Sendiri
Monday, 19 February 2018 | 12:09
Artikel

Di dalam ajaran Islam tidak dibenarkan masyarakat melakukan penghakiman sendiri terhadap orang yang melakukan kesalahan. Sebab, hal itu ada aturannya. Hukum rajam atau qishas ada aturan yang harus ditempuh sebelum diberlakukan. Keduanya memiliki prosedur, misalnya harus ada saksi atau hukum acaranya.
 
Jika hukum diberlakukan seenaknya, umat Islam sendiri yang akan terkena masalahnya. Pada zaman Nabi Muhammad tidak memberikan kesempatan masyarakat umum untuk menghakimi orang.
 
Kadang-kadang orang yang berbuat suatu kesalahan, di mata orang umum itu salah, tapi bisa jadi secara hukum ia bisa diringankan. Jika ada orang gila membunuh, ia tidak boleh dibunuh lagi. Sebab, ia tidak pernah dianggapmukallaf, tapi harusnya dianggap kecelakaan. Begitu juga dengan orang yang terpaksa membunuh karena mempertahankan diri, akal, nyawa, keluarga; kasusnya jangan disamakan dengan orang yang membunuh biasa. 

Bagaimana mengukur kesalahannya? Harus pada lembaga pengadilannya! 

Tugas ulama, adalah memberikan pencerahan kepada msyarakat bahwa tidak boleh main hakim sendiri. Sebab, ini adalah negara hukum. 

Dalam teori kepemimpinan, masyarakat tidak pernah salah. Jika ada terjadi penghkiman massa, harus dilihat kondisi objektif yang melingkupi keadaan masyarakat itu. Dan itu harus dikaji mendalam. 

Ada sesuatu yang hidup dan berkembang di sekitar masyarakat kita yang tidak kondusif yang menyebabkan terjadinya semacam kondisi-kondisi yang tidak kita inginkan.

Jika dilihat secara sosiologis, kenapa masyarakat gampang bertindak dan menyelesaikan urusan dengan cara mereka sendiri, tidak melalui jalur hukum, bisa jadi karena institusi hukum itu tidak terlalu berwibawa di mata mereka. 

Sehingga, kalau tidak dihukum sendiri, nanti lepas lagi, lepas lagi. Jadi itu indikator pertama.

Kedua, bisia jadi anggota msayarakat itu pernah mengalami kekerasan oleh kelompok lain, meski dalam kadar berbeda, sehingga ia melampiaskan kepada orang lain. 

Jadi, kalau masayarakat sudah terbiasa dengan dunia kekerasan, maka gampang memberikan kekerasan terhadap orang lain. Yang ketiga, faktor kemiskinan.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI