TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Islam dan Tradisi
Monday, 19 February 2018 | 13:46
Artikel

slam hadir tidak untuk menghapus tradisi yang berlaku di tengah masyarakat. Banyak tradisi baik yang justru dilestarikan dan disisipi dengan nilai-nilai keislaman. Bahkan banyak sekali tradisi itu yang kemudian menjadi identitas keislaman.
 
Contoh pada alat musik Nusantara menggambarkan hal ini dengan sangat jelas. Mulai dari ujung pulau Sumatera di Aceh hingga pedalaman Jawa dan pesisiran Sulawesi Selatan, terdapat seperangkat alat musik yang identik dengan Islam, bahkan hingga di luar Indonesia seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
 
Ada seperangkat alat bunyi-bunyian yang terdiri dari bahan dan cara main yang sama, yakni kulit dan kayu dengan cara dipukul. Masyarakat Jawa menyebutnya rebana, orang Betawi menamainya marawis dan warga Aceh mengatakannya rapa’i. Meskipun dinamakan dengan sebutan yang berbeda-beda, ia menjadi identitas yang jelas bagi kesenian Islam.
 
Namun bukan berarti segala kesenian yang tidak demikian adanya, lantas dianggap tidak islami. Termasuk juga yang tampak sama lantas begitu saja dapat disebut islami. Masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan dan suku Dani di pedalaman Papua menggunakan alat musik terbuat dari selongsong kayu dan kulit binatang yang juga digunakan dengan cara dipukul pada setiap upacara adat. Namun kesenian ini belum dapat dinyatakan sebagai kesenian Islami jika mereka belum memeluk agama Islam.
 
Bila meluaskan cakupan pembahasan ke dalam sisi-sisi identitas kemasyarakatan yang lebih luas, kita mendapati betapa luhurnya tradisi keislaman Nusantara telah melekat dalam setiap relung kehidupan bangsa, lebih spesifik lagi ke dalam segala denyut nadi kearifan-kearifan kelompok masyarakatnya.
 
Dalam peradaban Minangkabau, adagium yakni ”adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” masih sangat relevan untuk mengakomodasi tuntunan-tuntunan keagamaan bagi masyarakatnya di mana pun berada. Masyarakat Minang yang hidup di alam serba metropolis dan modern Jakarta tetap dapat memenuhi kebutuhan kesempurnaan keislaman mereka melalui garis hidup nenek moyangnya. Mereka tetap dapat menjadi Islam dengan sempurna sekaligus seorang Minangkabau seterusnya.
 
Maka sebagaimana kata Hamka ”Menjadi minangkabau adalah menjadi Islam.” Selayaknya kita berharap ada yang berani mengatakan, ”Menjadi Bugis, Melayu, Banjar, atau Mandar adalah menjadi Islam”. Kesempurnaan Islam merupakan jaminan bahwa kita tidak perlu takut mewujudkan keislaman dalam setiap nilai-nilai keluhuran kebudayaan.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI