TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Ideologi Kaum Khawarij sebagai Cikal Bakal Terorisme secara Terminologi
Monday, 19 February 2018 | 14:26
Artikel

Secara terminologi, khawarij adalah suatu sekte atau aliran yang awalnya mengikuti barisan Ali bin Ai Thalib pada saat perang shiffin, mereka memilih keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan mereka terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam Perang Siffin pada tahun 37 H/648 M, dengan kelompok pemberontak Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah. Kelompok Khawarij pada mulanya memandang Ali dan pasukannya berada di pihak yang benarkarena Ali merupakan khalifah yang sah, yang telah dibai’at mayoritas umat Islam, sementara Muawiyah berada di pihak yang salah karena memberontak khalifah yang sah. Lagi pula berdasarkan estimasi khawarij, pihak Ali hampir memperoleh kemenangan pada peperangan itu, tetapi karena Ali menerima tipu daya licik ajakan damai Muawiyah, kemenangan yang hampir diraihnya menjadi raib.

 

Setelah menerima ajakan damai, Ali mengirimkan Abu Hasan Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah. Keputusan tahkim adalah Ali diturunkan dari jabatannya sebagai khalifah, dan mengangkat Muawiyah sebagai khalifah pengganti Ali. Keputusan ini sangat mengecewakan kaum khawarij. Mereka membelot dengan mengatakan,”Mengapa kalian berhukum kepada manusia, tidak ada hukum selain hukum yang ada di sisi Allah.” Imam Ali menjawab,”Itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan dengan keliru.” Pada saat itu juga orang-orang khawarij keluar dari pasukan Ali dan langsung menuju Harura. Itulah sebabnya khawarij disebut juga dengan nama Hururiyah.

 

Dengan arahan Abdullah Al-Kiwa, mereka sampai di Harura. Disana kelompok khawarij ini melanjutkan perlawanan kepada Ali dan Muawiyah. Mereka mengangkat seorang pemimpin yang bernama Abdullah bin Shahab Ar-Rasyibi.

 

Kaum khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Baduwi. Kehidupannya di padang pasir yang serba tandus, menyebabkan mereka bersikap sederhana baik dalam cara hidup maupun pemikiran. Namun mereka keras hati, berani, bersikap merdeka, tidak bergantung dengan orang lain dan bersikap radikal. Ajaran agama tidak mampu merubah sifat-sifat Baduwi yang mereka miliki. Mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan tidak takut mati. Karena kehidupannya sebagai Baduwi menyebabkan mereka jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran Islam yang mereka dapat dari al-Qur’an dan Hadis mereka pahami secara literal serta harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dalam paham mereka bercorak sederhana, sempit, fanatik dan ekstrim. Iman yang tebal tetapi sempit, ditambah dengan sikap fanatik, membuat mereka tidak dapat mentolelir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka. Disinilah letak penjelasan mengapa mereka mudah terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil, serta dapat pula dimengerti mengapa mereka terus-menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam yang ada di zamannya.

 

*Tim Cyber Anti Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme Ditjen Bimas Islam Kemenag RI