TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Hitam Putih Agama di Kampus Sekuler
Monday, 19 February 2018 | 14:21
Artikel

Perbandingan dengan radikal ideologi kanan dan kiri cukup menarik. Gambetta dan Hertog menemukan bahwa radikal kiri rata-rata datang dari ilmu sosial adan humaniora, sangat sedikit yang berasal dari rumpun ilmu eksakta, terutama insinyur. Dengan ekstrem kanan atau ideologi fasistik semacam neo-Nazi, ekstremis Islam punya kesamaan. Memang tak banyak insinyur dalam sampel anggota organisasi ekstrem kanan, tapi jumlahnya tetap jauh lebih besar dibanding yang berasal dari ilmu sosial dan humaniora.
 
Tak hanya soal latar belakang pendidikan saja yang sama. Kaum fasis dan ekstremis Islam juga punya kesamaan ihwal nilai yang dianut: antimodernisme, perlawanan terhadap yang disebut “dekadensi budaya”, obsesi terhadap kemurnian, baik kemurnian religius maupun rasial, dan selera ikonografi. Lalu, ada satu hal yang amat kontradiktif dengan latar pendidikan mereka: selera yang sifatnya antisaintifik atas takhayul.
 
Kesamaannya ada dalam hal: kepribadian otoritarian. Ada sifat umum pada para fasis dan ekstremis Islam, yakni kebutuhan untuk mengakhiri perdebatan (need for closure). Para ekstremis tak punya toleransi terhadap ambiguitas, sedangkan dunia di hadapannya penuh ambigu. Dunia berubah, nilai-nilai moral berubah, dan mereka tak bisa mencerna perubahan itu. Bagaimana mungkin ada keluarga terdiri dari pasangan sesama laki-laki atau sesama perempuan, serta mengadopsi anak pula? Hal-hal seperti inilah tak bisa diterima oleh para konservatif ini.
 
Kecenderungan inilah yang menciptakan sikap keagamaan yang hanya mengenal warna hitam putih, benar atau salah, tanpa melihat ada kemungkinan yang lain. Inklusifitas seperti ini lantas menjadi tumbuh subur seiring doktrin yang terus menerus mereka terima di kampus-kampus mereka yang notabenenya tidak memiliki pembanding wacana lainnya, sebagaimana yang terdapat di kampus keislaman.
 
*Tim Cyber Anti Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme Ditjen Bimas Islam Kemenag RI