TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Harmonisasi Islam dengan Budaya (3)
Monday, 19 February 2018 | 13:55
Artikel

Ketika Islam datang di Nusantara, ajaran-ajarannya membaur dengan nilai-nilai ajaran setempat sehingga memunculkan harmonosasi yang luar biasa. Dakwah yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan nilai-nilai setempat untuk bisa mencapai kesuksesan dalam pengertian yang sebenarnya.
 
Inilah sebenarnya yang dikehendaki terminologi dakwah bil hikmah wal mauidzatul hasanah. Kemudianwa jadilhum billati hiya ahsan, penolakan dengan cara terbaik dilakukan sebatas ketika ada praktik hidup yang dijalani suatu masyarakat nyata-nyata bertentangan dengan nilai-nilai dasar dalam Islam.
 
Pemaknaan ajaran dengan praktek kebudayaan masyarakat setempat atau mungkin lebih tepatnya pembumian ajaran-Ijaran Islam ke dalam nilai budaya masyarakat itu akan menyebabkan Islam benar-benar tertanam di hati sanubari, tanpa adanya paksaan.
 
Pengaruh budaya Islam yang berasimilasi dengan budaya setempat semakin mengukuhkan harmonitas sosial masyarakatnya. Karena Islam dengan pengayaan budayanya akan lebih diterima oleh masyarakat, sehingga akan terbentuk suatu masyarakat yang memiliki jati diri muslim lewat lingkungan dan simbol-simbol edukatif-religius yang dimiliknya.
 
Dakwah yang tidak berangkat dari tradisi selalu gagal. Berbagai fakta membuktikan bahwasanya karena minimnya muatan kerifan lokal (local wisdom) pada akhirnya hanya menimbulkan konflik yang berujung pada perpecahan.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI