TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Harmonisasi Agama dan Budaya (1)
Monday, 19 February 2018 | 13:50
Artikel

Secara geografis Indonesia atau kawasan Nusantara merupakan wilayah strategis baik secara ekonomi dan politik serta pertahanan, karena posisinya pada perlintasan budaya antar benua. Dengan posisinya yang strategis itulah Nusantara menjadi perlintasan agama yang sangat penting. Kawasan ini mengalami perubahan budaya dan agama yang beruntun namun berjalan cukup damai.
 
Para sejarawan menyebutkan bahwa Islam sudah mulai masuk ke Nusantara sejak masa-masa awal petumbuhan Islam, yakni pada abad ke-7 bersamaan dengan kedatangan para pedagang Muslim. Pada masa ini Islam hanya dianut oleh pada pendatang dan belum tersebar kepada masyarakat pribumi. Tahap penyebaran agama Islam dimulai dari masa kemerosotan kerajaan Majapahit di Nusantara pada abad ke-14 dan ke-15.
 
Penyebaran Islam di wilayah Nusantara memiliki corak yang unik, berbeda dengan kawasan Timur Tengah. Hal ini dikarenakan di wilayah “timur jauh”, Islam tidaklah membangun wilayah pemukiman baru. Di Nusantara Islam masuk melalui pengislaman kepada berbagai kelompok masyarakat yang telah memiliki peradaban secara utuh, baik militer, sistem kekuasaan, kebudayaan maupun kepercayaan.
 
Secara sederhana dapat digambarkan bahwa Islam masuk melalui dua jalur. Pertama dengan meresap ke dalam setiap sumsum kehidupan masyarakat. Kedua dengan membangun dialog dan komunikasi yang baik dengan tokoh atau para pengusa setempat. Hingga melalui pengislaman dua jalur inilah Nusantara menjadi negeri tempat bermukimnya kaum muslimin terbesar di dunia, telah menyumbangkan tinta emas bagi catatan peradaban kejayaan Islam di dunia, sebuah kejayaan Islam yang sempurna.
 
Islam kemudian berkembang di Nusantara dengan mewarisi peninggalan-peninggalan masyarakat sebelumnya, tetap menghormati dan melindungi pelbagai hak dan inventaris kebudayaan mereka. Candi-candi dan kuil persembahan utuh terpelihara dan beroperasi tanpa diusik ritual-ritualnya. Hasilnya adalah hak hidup dan berkembang tetap terjamin hingga era republik telah berjalan selama lebih dari setengah abad. Inilah pula yang terjadi ketika Islam mencatatkan kegemilangan peradabannya di daratan Eropa. Sehingga kerinduan untuk mewujudkannya kembali bukan bagai menginginkan tercipratnya kembali setetes noda yang hina.
 
Jadi ketika Islam datang, ia telah menjadi tata nilai yang berjalan di kawasan Asia Tenggara ini. Bahkan kemudian mampu membentuk sistem pemerintahan dan varian keagamaan sendiri yang merupakan pergumulan antara budaya luar dengan budaya asli Nusantara.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI