TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Diaspora Kaum Jihadis
Monday, 19 February 2018 | 14:02
Artikel

Karena tekanan yang cukup keras di masa Orde Baru, banyak dari anggota kelompok-kelompok kecil pecahan DI/TII lari ke Malaysia.  Di negeri jiran ternyata mereka dapat bebas beraktivitas serta berkesempatan memperluas jejaring dengan pihak-pihak yang sepaham, baik di Malaysia maupun di luar negeri. Dari perluasan jejaring itulah kemudian mempertemukan mereka dengan kesempatan untuk membantu perjuangan umat Muslim dalam konflik di Afghanistan. Di sana mereka ternyata bersentuhan dengan beberapa kelompok teroris internasional, di mana salah satunya adalah Jamaah Islamiyah (JI). Persentuhan tersebut mengakibatkan mereka yang berjuluk mujahid ini mengalami pencucian otak mengenai ideologi Islam garis keras.
 
Konon para mujahid tersebut mulai berani kembali ke tanah air sejak era reformasi. Karena tekanan yang mulai melemah terkait eksistensi mujahid di Indonesia, membuat celah terjadinya aksi terorisme kain meningkat. Dari sinilah kemudian mulai terjadi aksi terorisme nyata dalam bentuk pengeboman, seperti Bom Bali I di tahun 2002, Bom Bali II, Bom Kuningan, dan lain-lain. Aksi pengeboman tersebut awalnya memang merupakan hasil persentuhan para mujahid dengan kelompom Jamaah Islamiyah. Namun setelah penangkapan berbagai tokoh kunci aksi terorisme tersebut, kini kegiatan teror terpecah-pecah menjadi kelompok lebih kecil. Para kelompok kecil ini masih tetap menjadi bagian dari kelompok besar sebelumnya, namun karena kosongnya posisi pemimpin, maka aksi mereka pun melemah.
 
Meskipun begitu, kita harus tetap waspada terhadap aksi terorisme karena hal tersebut masih berpotensi kuat terjadi Indonesia. Diperlukan aksi pencegahan yang bersifat semesta, yakni berupa pengerahan semua kemampuan negara dan masyarakat dalam mederadikalisasi aksi terorisme di Indonesia. Hal ini dilakukan karena penanggulangan terorisme tidak dapat dilimpahkan ke negara arah lembaga tertentu saja, melainkan dalam bentuk kerja sama dengan seluruh komponen negara dan masyarakat Indonesia.
 
Mengingat penyebaran aksi terorisme yang semakin meluas di tanah air, bahkan hingga ke elemen-elemen terkecil di masyarakat, diperlukan adanya kesadaran hidup dalam kedamaian. Sikap apatis dalam bermasyarakat dapat mendorong munculnya kekerasan dari oknum-oknum tertentu yang mengalami pemahaman dangkal akan makna kehidupan sosial yang damai. Jangan sampai kondisi apatis di dalam masyarakat kian meningkat, karena sikap apatis terbukti telah banyak menjadi salah satu faktor penyebab tumbuhnya aksi terorisme.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI