TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Dakwah Walisongo Dakwah Teladan
Monday, 19 February 2018 | 13:48
Artikel

Para wali berpendapat jika sedang berada di tengah-tengah masyarakat, maka mereka akan berpakaian seperti masyarakat pada umumnya. Jadi, jika para Wali ‘tiba-tiba’ berpakaian jubah seperti yang umum digambarkan, maka menurut hukum yang berlaku di masyarakat ketika itu, haram hukumnya. Lagi pula, para wali tidak mau berpakaian yang berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Itulah mengapa dakwah Wali Songo sangat berhasil dalam meng-Islamkan Nusantara dengan cara Nusantara itu sendiri. Bukan dengan cara Arab, apalagi dengan menonjolkan simbol-simbol Arab.
 
Para wali memahami betul daya tarik serta fungsi instrumen tradisi dan budaya bagi masyarakat saat itu, seperti pertunjukan wayang yang tidak hanya dipahami sebagai bentuk kesenian, karena didalamnya terdapat sisi-sisi spiritual dengan ritual yang khas.
 
Disebutkan dalam buku Atlas Walisongo bahwa wayang merupakan seni pertunjukan tertua sebagaimana tercatat dalam Prasasti Balitung berangka tahun 829 Saka (907 masehi). Pertunjukkan wayang digelar untuk Tuhan (si galigi mawayang buat Hyang macarita bimmaya kumara). Selain itu, keberadaan pertunjukan wayang juga disebut dalam Prasasti Wilasrama (852 Saka; 930 Masehi), pertunjukan wayang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Wayang Wwang.
 
Dalam rangka memposisikan seni pertunjukan wayang pada kedudukannya yang semula; sebagai pertunjukan yang bersifat spiritual dengan ritual khas, para Wali Songo melakukan pengambilalihan seni pertunjukan ini dengan sejumlah penyesuaian –termasuk kidung, tembang, dan berbagai aspek terkait lainnya– yang selaras dengan ajaran Tauhid dalam Islam. Maka dalam konteks ini dapat disimpulkan bahwa wayang merupakan satu dari sekian banyak bukti arkeologis tentang sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang dilakukan oleh para Wali.
 
Fakta di atas juga menunjukkan bahwa para wali tidak hanya berdakwah melalui penyesuaian terhadap tradisi dan budaya melalui karya tulis, tetapi juga merambah pada sisi seni yang kesemuanya menggunakan corak dakwah yang khas Nusantara. Penyajian historiografi yang apik oleh Agus Sunyoto mampu mengantarkan kita untuk menelusuri jejak-jejak Wali Songo melalui fakta-fakta empirik. Hal ini juga membuktikan bahwa corak dakwah yang dibawa oleh para wali dalam membentuk Islam yang khas Nusantara merupakan pijakan yang dikemudian hari diteruskan oleh para ulama pesantren.          
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI