TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Dakwah Tidak Boleh Dilakukan dengan Menzalimi
Monday, 19 February 2018 | 13:51
Artikel

”Orang yang paling sempurna imannya di antara kamu, adalah orang yang paling baik akhlaqnya.” (HR. at-Turmudzi)
 
Akhlak seorang Muslim ditegakkkan sepanjang hidupnya, seluas pergaulannya dan sepanjang apapun jalan hidupnya. Artinya seorang Muslim dianggap baik akhlaknya jika ia dapat berbuat baik atau setidaknya berusaha untuk berbuat baik di setiap tempat yang disinggahinya, kepada siapa pun yang ditemuinya dan pada waktu mana pun ia ingin melakukan tindakan-tindakan, baik yang berkenaan dengan sesama manusia, sesama makhluk Allah maupun kepada Sang Pencipta itu sendiri.
 
Pesan ini berlaku bagi siapa saja, termasuk bagi para pendakwah!
 
Akhlak Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk saling menyayangi dan saling mengasihi terhadap sesama manusia, terlebih kepada sesama umat Islam. Hal ini dikarenakan secara prinsip, Islam adalah agama yang mengharamkan segala bentuk tindakan menyakiti, mencederai, melukai kepada diri sendiri atau kepada orang lain; baik secara verbal maupun tindakan nyata terhadap salah satu anggota tubuh.
 
Konsep pergaulan keislaman ini sesuai dengan misi utama Kerasulan Muhammad SAW, yakni untuk kerahmatan bagi seluruh alam. Kekerasan, sekecil apapun bertentangan secara diametral dengan misi kerahmatan yang diemban, sebagaimana firman Allah SWT, ”Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali untuk menyebarkan kasih sayang terhadap seluruh alam”. (QS. al-Anbiya, 21: 107)
 
Prinsip kerahmatan inilah yang menjadi dasar peletakan pondasi pembahasan hukum Islam dan bangunan etika (moral/akhlak) dalam berinteraksi antar sesama, baik sesama Muslim maupun kepada sesama manusia. Seperti perlunya berbuat baik, memberikan manfaat, saling membantu, pengharaman menipu, pelarangan tindak kekerasan, dan pernyataan permusuhan terhadap sesama.
 
Allah SWT telah berfirman, ”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf , 7:56)
 
Beberapa teks hadits juga secara tegas melarang tindak-tindak kedzaliman seperti, ”Wahai hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliman terhadap diri-Ku, maka janganlah kamu saling mendzalimi satu sama lain.” (Hadits Qudsi, dalam Sahih Muslim)
 
Maka layakkah kita mengaku beriman kepada Allah jika kita tega menzalimi saudara-saudara kita sendiri; baik dengan perkataan atau perbuatan?Jawabannya pasti, tidak!
 
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI