TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Dakwah Harus Kreatif Seperti Wali Songo
Monday, 19 February 2018 | 12:21
Artikel

Dakwah itu harus sekreatif Wali Songo. Ketika masyarakat di Jawa gandrung dengan kesenian, Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, menyebarkan Islam dengan kesenian pula. Ia tidak melawan arus deras. Oleh karena itu, ia menciptakan suatu yang karya kesenian monumental yang hingga kini masih terawat, yaitu wayang. 

Islam memiliki kaidah dan kebudayaan sendiri. Lalu bagaimana caranya supaya wayang tidak menabrak aturan-aturan itu?
 
Sunan Kalijaga adalah wali yang tentu paham aturan-aturan Islam. Tapi ia tidak berdiam dalam aturan itu, melainkan berkreasi, dengan catatan, tidak menabrak aturan itu.
 
Wayang adalah suatu karya kesenian yang diupayakan bahwa keindahan itu tidak menabrak rambu-rambu fikih. Tentu ada perbedaan pendapat di antara para wali. Tapi mereka berkoordinasi dengan baik sekali.  

Ada hadits Nabi yang dipakai ulama-ulama “keras” yang berbunyi, “Siapa yang menggambar manusia, nanti akan disuruh memberi nyawa kepada gambarnya itu.” 

Nah, wayang ini tidak bisa disebut manusia, sementara disebut gambar binatang juga tidak bisa. Tapi orang yang melihat menganggap itu manusia atau binatang. Itu hebatnya.

Tidak ada manusia yang tangannya melebihi dengkul seperti tangannya wayang. Tak ada juga manusia yang tubuhnya gepeng seperti wayang. Tapi orang yang menonton merasa itu manusia. Itu satu strategi dan capaian yang luar biasa. 

Wayang tersebut dipakai Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Konon, Sunan Kalijaga sendiri yang mendalang, kemudian orang datang. Nilai-nilai ajaran Islam itu kemudian dikemas sedemikian rupa dalam cerita dari agama Hindu dengan latar kitab Mahabharata dan Ramayana.

Namun, di tangan Sunan Kalijaga, ceritanya sudah penuh dengan muatan-muatan ajaran Islam, tentang keikhlasan, tentang kemanusiaan, tentang buruknya khianat, dan lain-lain.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI