TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Dakwah Digital Islam Rahmatan lil Alamin
Monday, 19 February 2018 | 13:37
Artikel

Hasil survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) memaparkan, jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 mencapai 132,7 juta jiwa dari total penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta.
 
Artinya, lebih dari 50 persen warga Indonesia melek internet. Masalahnya adalah melek internet tidak berbanding lurus dengan melek ideologi. Terlebih dari total tersebut 24,4 juta adalah pengguna yang masih berusia 10-24 tahun, kisaran usia yang umumnya masih mencari jati diri dan cenderung labil.
 
Fakta ini menunjukkan minat yang begitu besar warga Indonesia terhadap internet dengan segenap dampak negatif yang belum tentu mereka sadari.
 
Banjir konten di internet di satu sisi menggampangkan orang untuk mencari informasi atau belajar tentang suatu hal, namun di sisi lain menyulitkan orang mendapatkan informasi yang akurat.
 
Butuh kejelian tersendiri untuk mengidentifikasi bahwa sebuah media kredibel atau tidak, menyimpan kepentingan politik/ekonomi tertentu atau netral. Jika tidak memiliki ketelitian itu, masyarakat awam rawan sekali terjerumus.
 
Celakanya bila situs yang mengampanyekan kekerasan dikemas dalam tampilan menarik dan tampak sangat religius. Belum lagi judul-judul vulgar pada artikel online yang mereka buat kerap membuat gatal orang untuk mengklik lalu membacanya. Strategi yang mirip juga terjadi pada konten audio visual.
 
Yang paling memprihatinkan, website-website radikal itu kadang melampaui fungsi sebagai sekadar penyampai kabar dan propaganda. Media tersebut juga berguna untuk penggalangan dana dan rekrutumen tenaga “jihad”.
 
Dalam banyak kesempatan situs-situs pro kekerasan itu menyebut para teroris baik dalam maupun luar negeri sebagai “mujahid”. Glorifikasi tindakan teror sebagai perjuangan suci sama saja dengan mengamini aksi-aksi tidak manusiawi sebagai tindakan yang wajar, bahkan dianjurkan.
 
Pandangan ini berbahaya sekali jikaterus dikampanyekan. Kita lah yang berkewajiban mencegahnya.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam