TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Buku Dakwah dan Jihad Perspektif Kaum Radikal
Monday, 19 February 2018 | 13:32
Artikel

Buku “Dakwah dan Jihad” Abu Bakar Ba’asyir yang ditulis pada 2003 menjadi salah satu buku awal yang ditulis jihadis pasca Bom Bali pada Oktober 2002. Dalam menulis pengantar bukunya Ba’asyir ketika dipenjara terkait aksi Bom Bali menyatakan:
 
“Dalam mengisi hidup ini, para ulama memberi nasehat yang singkat kalimatnya namun padat isinya: “Hidup mulia atau mati syahid.” Hidup mulia artinya hidup yang diatur dengan syari’at Islam secara kaffah, atau hidup yang dipenuhi dengan perjuangan menegakkan syari’at Islam, kemudian dengan sabar rela menanggung segala resikonya. Sedangkan mati syahid ialah mati terbunuh oleh musuh Islam dalam jihad fi sabilillah, atau dibunuh oleh penguasa dhalim karena berani menyuarakan kebenaran.”
Bersama Aman Abdurrahman, tulisan mereka berdua banyak dipengaruhi oleh teks-teks karya Ibn Taimiyah dan Sayyid Qutb. Juga risalah yang ditulis oleh Aiman al-Zawahiri memengaruhi generasi jihadis Indonesia dan dunia. Aman Abdurrahman dianggap memiliki pengaruh kuat atas pergeseran Abu Bakar Ba’asyir yang kemudian berbai’at kepada Abu Bakar al-Baghdadi. Ba’asyir membaca banyak buku Aman dan memberi pengantar. Pertukaran tulisan di penjara Nusa Kambangan saling memengaruhi tahanan teroris.
 
Perubahan sikap seseorang untuk bergabung dalam kelompok Jihad dan melakukan aksi terror banyak diilhami oleh tokoh-tokoh dan penulis Jihadis. Imam Samudra yang mempelopori awal tulisan anggota Jama’ah Islamiah sejak 2004, Aku Melawan Teroris (AMT), yang terbit ulang beberapa kali (tiga kali berturut-turut dalam tiga bulan: September, Oktober dan November 2004) dengan oplah lebih dari 50 ribu eksemplar. Menurut editornya, Bambang Sukirno yang juga direktur Al-Aqwam, buku ini semula berasal dari “Catatan Harian” Imam Samudra. Dia mengusulkan judulnya menjadi AMT, dengan alasan “judul itu lebih mencerminkan isi buku dan niat aksi yang mereka lakukan”.
 
Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak dari pemikiran Ba’asyir yang menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang melakukan banyak aksi kekerasan atas nama agama.
 
*Tim Cyber Anti Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme Ditjen Bimas Islam Kemenag RI