TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Berdakwah dengan Tradisi ala Wali Songo
Monday, 19 February 2018 | 13:22
Artikel

“Tokoh-tokoh ini, bukan tokoh-tokoh fiktif. Namun, benar-benar ada secara historis, arkeologis, maupun secara sosiologis.” Itulah pernyataan Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Wali Songo ketika buku gubahannya, Atlas Wali Songo, meraih penghargaan sebagai buku terbaik 2014 versi Islamic Book Fair (IBF) dalam kategori Buku Nonfiksi Dewasa.
 
Guru Besar Arkeologi UI Prof. Dr. Mundardjito pernah mengatakan, “Atlas Wali Songo menyediakan latar belakang kesejarahan yang memadai dan dengan dasar ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Uraian informasi yang dimulai dari ruang lingkup luas secara geografis dan kultural, mampu mengantarkan informasi yang spesifik, terinci, dan runut”.
 
Bukti-bukti kesejarahan Wali Songo dapat dilihat dari kacamata akademis sebagai fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Agus Sunyoto sendiri juga sering mengatakan bahwa ia mempunyai literatur-literatur primer karya Wali Songo yang kesemuanya ditulis dalam tulisan Jawa.
 
Tidak ada satu pun karya Wali Songo yang menggunakan tulisan Arab Pegon, hal ini tidak berarti bahwa para wali tersebut tidak menguasai penulisan dalam bahasa Arab; penggunaan tulisan Jawa dalam karya-karya para wali merupakan hasil akulturasi budaya yang dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan tulisan-tulisan yang berkembang di masyarakat ketika itu, sehingga pesan yang disuguhkan dalam tulisan tersebut dapat tersampaikan dengan baik.
 
Selain melalui tulisan Jawa, bentuk penyesuaian dengan tradisi dan budaya setempat juga ditunjukkan melalui tembang, kesenian, dan syair-syair yang mereka ciptakan. Karenanya Agus Sunyoto meragukan gambaran tentang Wali Songo yang mengenakan pakaian dalam bentuk jubah, yang merupakan pakaian model Arab.
 
Dalam konteks Sunan Kalijaga misalnya, jenis pakaian yang berkembang di tengah masyarakat kala itu adalah ‘dodot’, yakni semacam kain panjang putih yang dilingkarkan hanya sampai dada. Pakaian ini dipakai oleh para pendeta Hindu yang merupakan panutan masyarakat ketika itu. Para wali tahu bahwa pakaian jenis shafir (seperti jubah) sifatnya eksklusif, mereka menilai tidak boleh memakai pakaian yang sifatnya eksklusif seperti itu.
           
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI