TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
BELAJAR SEMANGAT BERZAKAT DARI WARGA CICURUG SUKABUMI
Monday, 19 February 2018 | 12:32
Artikel

Warga Desa Naggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi punya cara yang unik dalam menggerakkan semangat filantropi. Dengan kesadaran yang penuh, setiap kepala keluarga mengumpulkan uang Rp500 setiap hari.
 
Angka 500 rupiah berasal dari hitung-hitungan rasional 2,5 persen rata-rata pendapatan harian penduduk Desa Nanggerang. Mereka yang mayoritas adalah buruh tani lepas berpenghasilan Rp20.000 per hari.
 
“Kira-kira kalau diambil 500 rupiah per hari, apakah mengurangi jumlah nasi yang disuapkan ke keluarga? Apakah memberatkan?” begitu pertanya KHR Abdul Basith, inisiator gerakan sedekah ini kepada para jamaah majelis taklim.
 
Para jamaah menjawab, “Tidaaaak.”
 
“Kalau begitu apakah berani diambil 500 rupiah per hari demi berbagi dan membangun desa?”
 
Semua menyatakan berani. Dari situlah kesadaran berderma dipupuk. Buya Basith, yang kala itu adalah Ketua PCNU Sukabumi, hendak mendidik masyarakat untuk belajar zakat sebelum nishab (batas minimum jumlah harta wajib zakat).
 
Lima ratus rupiah memang sangat sedikit, namun saat itu dilakukan terus menerus, jumlahnya menjadi banyak. Karena sedikit adalah dasar dari yang banyak. Bukankah gunung yang besar itu terdiri dari kumpulan batu, tanah, dan krikil yang kecil?
 
Analogi tersebut menunjukkan kebenarannya. Uang recehan 500 rupiah  ditaruh di dalam toples setiap hari, kemudian dipunguti tiap pekan oleh petugas khusus.
 
Dari toples ke toples recehan selama setahun, terhimpun total dana yang cukup fantastis untuk ukuran masyarakat setempat. Sebagai contoh, untuk tahun 2016 lalu saja, Desa Nanggerang yang menjadi proyek percontohan desa-desa lainnya memperoleh pemasukkan sebesar 336 juta rupiah.
 
Hasil yang kini terlihat luar biasa. Poliklinik ZIS seluas seribu meter persegi berdiri megah dari kantong umat sendiri. Begitu pula penyediaan ambulans jenazah dan orang sakit. Layanan kesehatan disediakan secara cuma-cuma, termasuk untuk para ibu yang menjalani proses persalinan.
Di luar sektor kesehatan, manfaat yang terasa juga tampak dari segi infrastruktur. Dana sedekah tersebut telah membuahkan ratusan lampu dan menerangi hampir seluruh sudut jalanan desa yang sebelumnya gelap gulita.
 
Belum lagi soal bantuan-bantuan sosial dan berbagai pembiayaan rutin untuk sejumlah fasilitas publik. Santunan diberikan kepada mereka yang benar-benar miskin, tak terkecuali para janda jompo.
 
Sementara sejumlah ongkos rutin juga ditanggung meliputi listrik masjid, serta insentif untuk beberapa imam, marbot, dan guru mengaji. Semua dilakukan sepengetahuan dan atas persetujuan masyarakat setempat.
 
(*)
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam