TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Belajar dari Tiongkok
Monday, 19 February 2018 | 13:13
Artikel

Banyak masyarakat Indonesia yang berpendapat bahwa melarang pornografi merupakan tindakan yang berlebihan. Bahkan sebagian besar pendukung munculnya gelombang massa yang penolakan terhadap RUU-APP berasal dari umat Islam. Bahkan ada juga organ-organ  organisasi mendukung gerakan ini atas nama kebebasan individu, kebebasan berekreatifitas dan berekspresi. Padahal sebagaimana disinyalir oleh pemimpin organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Muzadi,  pornografi sudah menjadi alat akulturasi budaya untuk membongkar budaya Islam. Kedua, pornografi sudah menjadi “tambang” industri baru. 
 
Di luar sana, Cina sudah selangkah lebih maju dalam menyikapi bisnis pornografi demi mempertahankan moralitas budaya mereka. Pada tahun 2007 lalu, negara tirai bambu ini baru merilis kampanye melawan pornografi Internet. Zhang Xinfeng, wakil menteri keamanan umum Cina menyatakan “Booming konten pornografi di Internet telah mengkontaminasi jagat maya dan mempengaruhi pikiran remaja Cina.” Bahkan pada November tahun lalu, pengadilan menjatuhkan hukuman seumur hidup pada pendiri situs pornografi terbesar di negara ini. Padahal dari bisnis pornografi dunia maya ini Cina telah berhasil meraup US$ 27,4 miliar atau sekitar Rp 249,6 triliun.
 
Seharusnya kita bisa belajar dari Cina. Jika sebuah negara komunis saja bisa memerangi pornografi mengapa negara yang penduduknya mayoritas Islam seperti Indonesia tidak dapat melakukannya? Bukankah itu membuktikan bahwa spirit keagamaan kita dalam membangun manusia yang beradab sudah mulai diragukan?
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI