TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Belajar dari Al-Hikam Cinta Indonesia
Monday, 19 February 2018 | 12:20
Artikel

 
Di Kota Manado, Sulawesi Utara, ada majelis Al-Hikam Cinta Indonesia. Majelis tersebut didirikan Habib Muhsin Bilfaqih, seorang keturunan Yaman, yang kini menjadi salah seorang pengurus NU di kota itu.
 
Majelis tersebut, letaknya tidak jauh dari dua gereja dan letaknya berimpitan dengan rumah tokoh Muhammadiyah.
 
Di majelis tersebut tidak hanya tempat mengaji anak-anak, memukul rebana, atawa membaca Ratib dan shalawatan, melainkan tempat berkumpul lintas golongan. Anak-anak muda berlatar belakang Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Muslim sendiri sering bertemu di situ.
 
Majelisnya didesain seperti itu, karena manusia berasal dari satu Adam. Manusia lebih tua dari agama. Dan yang tua harus dihormati, termasuk identitas yang berbeda-beda. Itu desain Tuhan dan tentu ada maksudnya. Kalau Tuhan mau mengubahnya, Dia bisa.
 
Pada hakikatnya orang yang membenci perbedaan pun berasal dari Tuhan. Keadaan yang demikian itu sebagai alat uji bagi manusia dan saling mempelajari satu sama lain. Kadang-kadang kita menyadari kebenaran dengan berkaca dari kesalahan orang lain.
 
Ketika Tuhan menciptakan seseorang, Tuhan juga menciptakan orang lain. Jika seseorang itu ingin dihargai, orang lain pun perlu dihargai. Jika itu kebutuhan kita, maka itu juga kebutuhan orang lain sehingga kita tidak bisa mencaplok kebutuhan orang lain. Di sinilah pentingnya pertemuan, perkenalan.

Manusia diciptakan memiliki tiga tugas, yaitu hablum minallah. Maka pendekatan yang harus dibangun adalah ibadah. Tidak ada tawar-menawar.

Kedua, hablum minan nas, pendekatan yang harus dibangun antarsesama manusia dengan akhlak.

Ketiga, hablum minal alam, bumi, flora, dan fauna dengan pendekatan teknologi. Jika ketiganya tertata dan terbangun dengan baik, maka itulah sorga di bumi.
 
Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010, komposisi penduduk Manado berdasarkan agama adalah 128.483 menganut Islam, 254.912 Kristen, 20.603 Katolik, 692 Hindu, 2.244 Budha, dan Konghucu 499 jiwa.
 
Di kota tersebut hidup beragam suku bangsa. Meski riak-riak konflik selalu ada, tapi kota Manado relatif aman. Pada tahun 1999 misalnya, kota tersebut tidak terjadi kerusuhan sebagaimana kota-kota besar lain.
 
Di antara perekat multietnis, multiagama kota tersebut adalah moto dan filsafat mereka yang terkenal, misalnyasi tou timou tumou tou yang dipopulerkan Sam Ratulangi, yang berarti manusia hidup untuk memanusiakan orang lain atauorang hidup untuk menghidupkan orang lain. Dalam ungkapan Bahasa Manado, sering kali dikatakan baku beking pande yang secara harafiah berarti saling menambah pintar dengan orang lain.

Moto seperti itu, sepertinya jadi titik pijak Majelis Al-Hikam.

*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI