TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Bagaimana para Ulama Memaknai Jihad (Part 2)
Monday, 19 February 2018 | 12:53
Artikel

Sedangkan jihad ‘amm (jihad umum) yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan baik yang bersifat moral maupun material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jihad ini dilakukan dengan mengorbankan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini adalah menghadapi musuh berupa diri sendiri (hawa nafsu), setan, ataupun musuh-musuh Islam (manusia).
 
Lain lagi dengan Imam Al-Ghazali, beliau membagi jihad dalam empat kategori:
 
1.    Jihad Zahir -- jihad melawan orang yang tidak menyembah Allah SWT.
2.    Jihad menghadapi orang yang menyebarkan ilmu dan hujjah yang batil.
3.    Berjihad melawan nafsu yang sentiasa menyeret manusia ke arah kejahatan.
 
Dari pemaparan berbagai pendapat ulama diatas, kita bisa ketahui bahwa sesunggunya jihad bukan hanya sekedar soal perang secara fisik, namun lebih kepada berupaya semaksimal mungkin bagaimanapun caranya agar agama Allah yakni islam bisa tegak di muka bumi ini, entah lewat aksi ekonomi, aksi sosial-kemasyarakatan, aksi budaya, maupun aksi-aksi lainnya yang memberikan kemaslahatan bukan hanya pada sesama kaum muslim, namun juga menyeluruh pada seluruh manusia, bahkan lebih jauh pada seluruh makhluk Allah.
 
Dalam pengertiannya yang khusus, jihad memang bermakna “perang melawan kaum kafir atau musuh-musuh Islam”. Pengertian seperti itu antara lain dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa jihad adalah “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”.
 
Namun jangan lupakan juga makna jihad lebih luas cakupannya daripada aktivitas perang. Jihad juga meliputi pengertian membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan.
 
Melirik pada kondisi keindonesiaan saat ini, pemaknaan jihad yang lebih pas sebenarnya ialah berusaha untuk memajukan bangsa yang secara kuantitas sudah menjadi bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia, namun tantangannya adalah bagaimana menjadikan bangsa ini sebagai bangsa dengan kualitas yang paling islami. Mulai dari kedisiplinannya, kebersihannya, kejujurannya, anti-korupsi, serta profesionalisme dalam segala bidangnya.
 
*Tim Cyber Anti Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme Ditjen Bimas Islam Kemenag RI