TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Bagaimana para Ulama Memaknai Jihad (Part 1)
Monday, 19 February 2018 | 12:56
Artikel

Abdullah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw yang diberkahi oleh Allah memiliki pemahaman yang baik dalam menafsiri Al-Qur’an berpendapat bahwa jihad berarti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.
 
Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, tokoh yang selalu dikutip namanya oleh mereka yang kerap menciptakan aksi teror atas nama agama, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.
 
Hal senada dikemukakan oleh oleh Ibnu Atsir, yang menyebutkan bahwa jihad berarti “memerangi orang kafir dengan bersungguh-sungguh, menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan.”
 
Lebih lanjut, dalam memandang jihad, Ibnu Qayyim, tokoh yang juga serong dikutip oleh para jihadis, membagi jihad ke dalam tiga kategori dilihat dari pelaksanaannya, yaitu:
1.    Jihad mutlak
2.    Jihad hujjah,
3.    Jihad ‘amm.
 
Jihad mutlak adalah perang melawan musuh di medan pertempuran (berjuang secara fisik). Jihad hujjah adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam (berdiskusi, debat, atau dialog).
 
Ibnu Taimiyah menanamakan jihad macam ini sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan). Dalam hal ini, kemampuan ilmiah dan berijtihad termasuk di dalamnya.
 
*Tim Cyber Anti Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme Ditjen Bimas Islam Kemenag RI