TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Ayo Kita Tutup Kran Radikalisme!
Monday, 19 February 2018 | 12:55
Artikel

Paham dan tindakan ekstrem yang berakar dari radikalisme masih gencar dihembuskan oleh sejumlah kelompok yang tidak menginginkan Indonesia hidup dalam harmoni kemajemukan. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius dari berbagai elemen bangsa untuk menutup derasnya radikaslisme yang memanfaatkan Kran demokrasi di Indonesia.
 
Dalam konstitusi, seluruh bangsa Indonesia memang bebas berkumpul dan berserikat asal mempunyai pijakan dasar dan visi yang sejalan dengan negara, yakni memegang teguh Pancasila, menguatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjunjung Bhinneka Tunggal Ika, dan menaati UUD 1945.
 
Sekilas menjadi pemahaman umum dan sederhana, jika ada sebuah perkumpulan atau organisasi yang menolak konsensus bangsa Indonesia, Pancasila serta tidak menginginkan sistem demokrasi yang selama ini berjalan, maka sudah seharusnya pemerintah bertindak tegas untuk men-delete organisasi tersebut dari negara multietnis ini.
 
Bangsa Indonesia mempersilakan HTI berjuang di negara lain sebab sistem khilafah tidak cocok di Indonesia serta tidak sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa ini.
 
Lalu, apakah HTI pernah berjuang mendirikan bangsa yang damai dan plural ini sehingga dengan seenaknya ingin mengganti dasar dan sendi-sendi kehidupan bernegara? Tentu bangsa yang didirikan di atas kemajemukan dan menghargai keberagaman dalam kebersamaan ini menolak langkah HTI sebagai bagian dari upaya makar.
 
Saat ini, paham yang dibawa HTI dan sejumlah organisasi Islam berpaham ekstrem telah banyak merasuk ke dalam pemikiran para generasi muda, utamanya di sekolah dan perguruan tinggi umum.
 
Beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswa mendeklarasikan khilafah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Bahkan menurut keterangan salah satu mahasiswa Pascasarjana IPB, doktrin tersebut sudah berlangsung lama sehingga bisa dipastikan, indoktrinasi telah merasuk dan meracuni generasi muda dari identitas kebangsaannya.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI