TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Awas, Jaringan Terorisme Menyebar lewat Internet
Monday, 19 February 2018 | 12:53
Artikel

Propaganda radikalisasi menyebar ke seluruh dunia berkat perkembangan teknologi komunikasi. Bahkan, WNI yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dalam jaringan kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) disinyalir adalah korban penyebaran paham radikalisme melalui dunia maya.
 
Jika dulu instrumen radikalisme dapat diidentifikasi seperti rumah ibadah, pendidikan, atau tempat pertemuan kini bergeser ke internet yang bisa diakses melalui gadget dan warung internet di mana-mana, maka sekarang ini media sosial membuka ruang tertutup menjadi terbuka. Melalui media online perubahan pola propaganda terorisme berlangsung lebih masif dan terbuka. Arus radikalisme baru ini tentu saja menjadi tantangan baru bagi pemerintah dan masyarakat secara umum.
 
Fenomena radikalisme di dunia maya seakan membangunkan kesadaran kita bahwa ada lubang besar yang tak terpikirkan dan itu sangat efektif digunakan oleh kelompok teroris. Harus disadari, dibandingkan dengan negara-negara Barat, Indonesia sedikit lebih terlambat sadar ancaman terorisme di media online. Namun bukan hal yang terlambat bila kita saat ini memberikan porsi besar terhadap arus radikalisme di dunia maya ini.
 
Pemerintah sudah seharusnya memutus rantai jaringan terorisme dunia dan usaha itu mampu melokalisasi kekuatan terorisme dalam negeri dan jaringan internasional dengan melibatkan banyak pihak seperti tokoh agama, ulama, tokoh pendidikan, pemuda, dan tokoh masyarakat.
 
Tokoh agama dapat memberi pemahaman mengenai ajaran nilai-nilai agama yang membawa kepada kedamaian. Hal ini dikarenakan esensi agama yang sama sekali tidak pernah mengajarkan umatnya untuk saling membenci, apalagi sampai melakukan kekerasan.
 
Jika tokoh agama berhasil menyampaikan pesan kedamaian, maka akan besar potensi terciptanya kehidupan yang tentram dan damai di tengah-tengah masyarakat. Pesan perdamaian dan anti kekerasan dapat disampaikan di dalam banyak forum, seperti ceramah umum, pengajian, majelis taklim, dan bahkan melalui televisi dan radio atau lewat media sosial.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam