TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Awas Bisnis Narkoba di Dunia Maya
Monday, 19 February 2018 | 14:28
Artikel

Bisnis narkoba selalu menggiurkan bagi pelakunya, hingga yang sudah dipenjara pun masih ‘main-main’ dibalik bui kendalikan peredaran narkoba. Menurut Bareskrim Mabes Polri bagian Tindak Pidana Narkoba, 1 kilogram (kg) narkoba jenis sabu di Indonesia bisa seharga Rp1 Miliar yang awalnya seharga Rp300 Juta di Tiongkok.
 
Harga itu, menurutnya, ketika pasar ramai, kalau sepi menjadi Rp1,5 Miliar per 1 kilogramnya. Oleh karena itu, bisnis ini dapat dikatakan “tidak ada matinya” karena selalu menguntungkan dan pelakunya akan terus bertambah.
 
Seiring berkembangnya zaman, peredaran narkoba juga mencoba untuk terus eksis di tengah kubangan teknologi yang semakin canggih ini. Melalui teknologi internet, narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya telah mendapat tempatnya sendiri.
 
Berbeda dengan internet yang biasa kita akses atau yang disebut surfaceweb, Deep web yang menjadi tempat jual-beli obat-obatan terlarang berada ‘di luar’ akses internet yang biasa kita akses. Deep web atau kadang disebut dengan dark web ini tidak bisa diindeks oleh Google.
 
Layaknya lautan nan luas, web yang biasa kita akses untuk mengecek email, bersapa di wall facebook teman, bercuit-cuit di twitter atau sekadar browsing di google hanyalah sebuah permukaan dari gunung es tersebut.
 
Sedangkan, deep web, dark web merupakan bagian dalam dari lautan yang luas tersebut yang oleh beberapa peneliti dikatakan lebih luas dari internet yang biasa kita gunakan. Perancangan deep web ini melibatkan banyak hacker yang ahli hingga keamanannya sangat sulit untuk dibobol.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI