TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Amnesti Nabi kepada Musuh-musuhnya
Monday, 19 February 2018 | 13:44
Artikel

Pada Masa pembebasan Kota Mekah Nabi memberikan keteladanan dengan memberikan amnesti umum pada kelompok yang selama ini memusuhi beliau. Walaupun beliau diusir dari tanah kelahirannya itu selama kurang lebih delapan tahun, tetapi beliau tidak melakukan balas dendam, terhadap orang-orang yang dulu melakukan penyiksaan, penghinaan terhadap Islam dan kaum Muslimin dan Nabi sendiri.
 
Ketika itu ada sekelompok sahabat yang dendam pada kekejaman orang kafir Quraisy di zaman dahulu, sehingga sesumbar dengan geram; al yauma yaumul malhamah (hari ini adalah hari pembalasan), maka dengan tegas Nabi mencegah kemauan sekelompok sahabatnya itu  dengan sikap sebaliknya dengan bahasa penuh kesejukan; al yauma yaumul marhamah (hari ini adalah hari kasih sayang), hari untuk  saling memaafkan.
 
Selanjutnya diumumkan; barang siapa masuk masjid maka mereka aman, dan barang siapa masuk rumah Abu Sufyan tokoh Quraisy juga aman, dan barang siapa yang menutup rumahnya juga dijamin keamanannya; sehingga tidak ada pertumpahan darah dalam pembebasan Mekah itu. Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, jauh dari rasa dendam, apalagi dendam pribadi. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Quran:
 
Dikarenakan rahmat dari Allah–lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka (Quraisy). Seandainya kamu bersikap keras dan kasar tentulah mereka akan menjauh dari sisimu, karena itu maafkan dan mohonkan ampun mereka dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam segala hal. (QS. Ali Imran: 159).
 
Dengan sikap lembut dan pemaaf intu misi Nabi justeru lebih menarik simpati masyarakat. 
 
Pelajaran sejarah lain yang diajarkan Nabi adalah setelah pembebasan Mekah berbagai suku di Arab telah masuk Islam, sehingga membuat bangga sebagian kaum Muslimin sebagai mayoritas. Sikap itu membuat mereka angkuh dan lengah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasunya, sehingga mereka mendapat musibah besar ketika mendapat serangan dari orang kafir di Khunain. Allah sendiri mencela hal itu dengan berfirman :
 
Artinya: Dan ingatlah  peristiwa Khunain, ketika kamu congkak, karena banyaknya jumlahmu, maka padahal jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun. (QS.  At-Taubah:  25).
 
Allah dan rasulnya menghendaki bagi kelompok mayoritas harus tetap rendah hati sehingga bisa menjadi pelindung bagi kelompok yang lain.
 
*Tim Cyber Ditjen Bimas Islam Kemenag RI