TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Akibat Dangkal Pahami Khilafah
Monday, 19 February 2018 | 12:43
Artikel

tuntutan memberlakukan syariat islam sebagai acuan hukum, tidak jarang menimbulkan sikap inklusif dan intoleran yang ujungnya ialah menganggap diri lebih baik dan yang lain adalah salah dan layak dimusnahkan. Muara dari pemahaman ini adalah semangat untuk melaksanakan jihad yang sebenarnya sangat sembrono sekali dimaknai oleh mereka.
 
Perlu sekali dilakukan revisi atas makan jihad yang oleh golongan radikal jihadis direduksi menjadi hanya bermakna qitâl (perang atau membunuh). Dikutip dari pendapat Sayyid Bakr ibn al-Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyathi di dalam kitab “Hâsyiyah I’ânah al-Thâlibîn Syarh Fath al-Mu’în”, jihad ternyata tidak hanya melulu persoalan perang atau membunuh. Di antara makna jihad adalah melaksanakan penyiaran agama, mengajarkan ilmu-ilmu syariat (seperti tafsir al-Qur`an, hadits, fikih, dan sejenisnya), melindungi warga sipil baik dari kalangan umat Muslim, dzimmîy (non-Muslim yang berdamai) dan musta’man (non-Muslim yang melakukan perjanjian perdamaian dengan kaum Muslim) dari marabahaya yang mengancam, menganjurkan dan menyerukan kebaikan serta melarang kemungkaran, menjawab salam dan menebar kedamaian bagi umat manusia.
 
Jihad dalam arti qitâl (membunuh atau memerangi) hanyalah sekedar sarana dan bukan sebuah tujuan. Tujuan utama jihad adalah tercapainya hidayah, agar bisa mensejahterakan kehidupan ummat manusia dan menjadikan islam sebagai rahmatan lil-alamin. Jihad dalam arti qitâl baru boleh dilakukan dalam kondisi darurat, seperti untuk membela diri, dan tentu saja itu tidak dilakukan dalam kondisi damai.
 
Selain mengkerdilkan makna jihad, kelompok jihadis juga gemar sekali melakukan pengkafiran pada siapa saja yang tidak sepaham dengannya. Barangkali mereka tidak sadar bahwa ketika kita mengkafirkan seorang muslim, maka bisa saja tuduhan kafir tersebut menjadi bumerang, dan mengenai diri kita sendiri. Jauh-jauh hari Rasulullah sudah mengingatkan bahwa antar sesama muslim haruslah saling menjaga harta, kebebasan beragama, dan yang terpenting adalah jangan sampai saling menumpahkan darah. Karena menumpahkan darah itu adalah dosa pertama yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini sebagaimana yang pernah Qabil lakukan terhadap Habil, saudaranya sendiri. Bukankah kita enggan menjadi Qabil zaman now?