Semua Kita Akan Dirampas: Sebuah Refleksi Kehidupan

Oleh: Ahmad Zulfi Aufar

ASN Ditjen Bimas Islam

Kurs bisa bergerak, bursa bisa terjun bebas, dan jabatan setinggi apa pun pasti ada akhirnya. Tapi ada kehilangan yang jauh lebih sunyi dan lebih mahal daripada harta dan kedudukan: habisnya pahala karena kezaliman kepada sesama.

Dalam hitungan hari, angka di layar bergerak ke arah yang berlawanan: rupiah, saham, dan kursi-kursi jabatan yang tampak begitu kokoh akhirnya berpindah tangan, seakan dunia sedang mengulang pelajaran lamanya dengan cara yang paling gamblang. Semua itu mengantar kita pada satu kebenaran sederhana yang berdiri tegak di tengah riuhnya pergerakan angka dan pergantian jabatan, yaitu bahwa apa pun yang kita genggam hari ini hanyalah titipan, dan tak ada kedudukan duniawi yang kekal.

Saya diingatkan oleh sebuah nasihat lama yang dinisbatkan kepada Ibnu Hajar dan diuraikan Syekh Nawawi Banten dalam Nashâ'ihul 'Ibâd:

يَسْتَقْبِلُ بَنِي آدَمَ أَرْبَعُ نَهَبَاتٍ: يَنْتَهِبُ مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ، وَيَنْتَهِبُ الْوَرَثَةُ مَالَهُ، وَيَنْتَهِبُ الدُّودُ جِسْمَهُ، وَيَنْتَهِبُ الْخُصَمَاءُ عَمَلَهُ.

Maksudnya, setiap manusia akan menghadapi empat rampasan: nyawa yang diambil malaikat maut; harta yang diambil ahli waris; jasad yang diambil cacing tanah; dan pahala amal yang bisa diambil oleh orang-orang yang pernah ia zalimi.

Pertama adalah nyawa dan inilah yang paling jujur, sebab pasar bisa dibuka lagi besok pagi tanpa ada yang menjamin kita ikut menyaksikannya, dan pejabat boleh menyusun rencana untuk bertahun-tahun, pengusaha boleh membuka puluhan cabang, namun ajal tidak pernah menunggu jadwal siapa pun, seperti yang sudah diingatkan Al-Qur'an bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati (Ali Imran: 185).

Kedua adalah harta, yang sering kita awasi dengan begitu tekun lewat kurs, grafik saham, dan saldo rekening seolah semua angka itu akan ikut menemani sampai akhir, padahal semuanya akan ditinggalkan. Warisan memang bukan perampasan dalam arti hukum karena ia adalah peralihan hak yang justru diatur oleh agama, sehingga pertanyaan yang lebih penting bukan seberapa banyak yang terkumpul, melainkan dari mana datangnya dan sudahkah hak orang lain di dalamnya kita tunaikan. Islam tidak melarang kita berinvestasi atau mengejar kemakmuran, dan yang patut dikritik adalah kesediaan menggadaikan kejujuran, keluarga, serta martabat orang lain demi mempertahankan angka yang sejatinya tidak abadi.

Jabatan pun mengajarkan hal yang sama, sebab kursi yang kemarin memberi wewenang dan penghormatan bisa kosong hari ini, entah karena masa tugasnya habis, dirotasi, atau sebab lain, dan sejak awal ia memang tidak pernah dimaksudkan untuk selamanya karena siapa pun yang duduk di sana hanya dititipi, sedangkan titipan pada waktunya akan diambil kembali.

Rampasan ketiga yaitu menyangkut tubuh, yang kita rawat dengan banyak waktu dan biaya demi penampilan, kesehatan, dan kebugaran, dan itu wajar karena merupakan bagian dari tanggung jawab atas amanah hidup, tetapi tubuh punya batasnya, sebab pakaian semahal apa pun dan citra serapi apa pun tak akan menghentikan proses alam yaitu akan dimakan oleh cacing tanah ketika kita dikubur.

Dari keempatnya, yang terakhir inilah yang paling menggetarkan karena tak pernah tampak. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw. menggambarkan seseorang yang datang pada hari kiamat membawa salat, puasa, dan zakat, tetapi di dunia ia pernah zalim dengan menghina, menuduh, merampas hak, dan menyakiti orang lain. Maka pahalanya dibagikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi, dan bila kebaikannya habis sebelum urusan itu selesai, dosanya dipikulkan kepadanya.

Uang yang hilang masih bisa dicari lagi dan jabatan yang berakhir masih bisa digantikan dengan peran lain, tetapi pahala yang sudah berpindah ke tangan orang lain tidak bisa ditarik kembali dengan usaha apa pun, dan ketika kekuasaan atau kekayaan dipakai untuk melukai sesama, persoalannya tidak selesai hanya karena kursinya sudah berganti.

Contohnya tak perlu dicari jauh-jauh, cukup kita lihat linimasa sendiri, tempat orang begitu mudah menyambut kejatuhan sesamanya dengan ejekan, meneruskan kabar yang belum jelas, atau mengadili seseorang sebelum faktanya diperiksa. Padahal satu komentar yang viral bisa meninggalkan beban yang panjang sehingga bila ingin mengambil pelajaran dari hal-hal yang ramai belakangan ini, yang perlu dijaga bukan hanya harta dan jabatan, tetapi juga lisan dan jari yang mengetik.

Peringatan ini berlaku untuk siapa saja yang punya pengaruh, entah pejabat, pemilik usaha, pemuka agama, atau pemilik akun media sosial karena kewenangan bukan hak untuk merendahkan, popularitas bukan izin untuk memfitnah, dan kesalehan ritual tidak bisa menggantikan kewajiban mengembalikan hak orang lain, sebagaimana Al-Qur'an memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan setiap keputusan ditetapkan dengan adil (An-Nisa: 58).

Karena itu, ketika kurs bergerak, bursa terguncang, dan kursi kekuasaan berganti penghuni, kita tak perlu buru-buru menjadikannya vonis moral atas siapa pun, dan lebih baik membiarkannya mengajak kita bercermin, apakah harta sudah kita kelola dengan halal, jabatan kita jalankan sebagai amanah, dan sesama kita perlakukan dengan adil, sebab yang paling menakutkan bukanlah saat saldo berkurang, harga saham jatuh, atau jabatan berakhir, melainkan ketika semua itu telah berlalu, lalu kita menghadap Allah dengan pahala yang terkuras karena hak orang lain pernah kita rampas.

الوسوم المتعلقة:
#Zakat#KUA#ProdukHalal#UraisBinsyar#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Bimas Islam
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Redaksi Ditjen Bimas Islam
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah
Urais Binsyarعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua